Thursday, September 8, 2016

TEKA-TEKI MEMBIRUNYA KUKU DAN BIBIR MIRNA

Image result for foto kasus mirna

POKER ONLINE TERBAIK | Kasus kematian Wayan Mirna Salihin masih tanda tanya. Setelah sejumlah fakta berhasil terungkap di sidang-sidang sebelumnya, pada sidang Rabu kemarin, keterangan ahli dari kubu terdakwa Jessica Wongso seolah membuat fakta-fakta itu terbantahkan.

Kubu Jessica menghadirkan ahli Patologi Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yakni "Djaja Surya Atmadja". Djaja merupakan ahli patologi yang mengajarkan mata kuliah toksikologi, terutama sianida sejak 1990 di Universitas Indonesia.

Ia juga adalah satu dari 84 persen orang di Indonesia yang dapat mencium bau sianida dalam kadar 1 mg, dan juga merupakan dokter spesialis DNA pertama di Indonesia.

Dalam keterangannya, Djaja mengungkap bukti-bukti baru yang semakin membuat sulit menyimpulkan penyebab kematian Mirna. Menurut Djaja, tiga ciri khas orang keracunan sianida tidak ditemukan di jenazah Mirna Salihin.

Ciri pertama adalah munculnya warna kemerahan di tubuh dan organ dalam. "Itu karena HbO2, muncul warna kemerahan pada tubuh dan organ dalam," ujar Djaja di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu 7 September 2016.

- Berdasarkan ciri tersebut, Djaja yang menangani proses pengawetan jenazah Mirna dengan formalin di RS Abdi Waluyo, mengaku tidak menemukan warna kemerahan di tubuh Mirna. Yang ia temukan adalah warna biru hampir kehitaman di bibir dan ujung kuku Mirna.

" Yang saya lihat pada waktu itu adalah bibir korban yang membiru, dan juga ujung kuku yang biru kehitaman." tutur Djaja.

- Ciri kedua adalah bau khas racun sianida yang menyerupai aroma kacang almond. Bau pahit mirip almond ini, menurut Djaja, dapat ia cium dengan cara menekan ulu hati dan dada Mirna.

" Saya sudah periksa waktu itu. Saya tekan dada dan uluh hatinya (Mirna) untuk cari bau yang mencurigakan. Kalau bau bawang putih itu berarti keracunan arsenik, bau minyak tanah itu keracunan Baygon, kalau pahit bitter almond itu berarti keracunan sianida," beber dia.

- Kemudian, penasihat hukum Jessica Otto Hasibuan bertanya kepada Djaja,
"Apakah Anda mencium bau-bau itu?"
"Semua tidak terdeteksi," jawab Djaja.

- Ciri terakhir yaitu warna lambung yang berubah menjadi merah pekat dan membengkak. Ciri itu muncul karena kandungan Na (basa kuat) dan CN (asam) yang jika berkolaborasi akan menghasilkan sifat basa kuat di lambung manusia.

" Ciri ketiga itu lambung bengkak, licin seperti sabun, dan warnanya merah. Lambung seperti karpet merah ini penyebabnya hanya satu, karena sianida," Djaja menegaskan.

- Namun, hasil pemeriksaan di lambung Mirna jauh berbeda dengan ciri yang disebutkan Djaja. Di lambung Mirna, ujar dia, telah terjadi korosif (luka lambung) yang digambarkan dengan bercak-bercak hitam. Berdasarkan pengalamannya, kondisi tersebut hanya muncul ketika lambung mengalami pendarahan yang diakibatkan oleh kadar asam tinggi.

" Kalau lambungnya hitam dan ada luka-luka, lalu kering, itu ciri-ciri kadar asam lambung terlalu tinggi. Penyebabnya karena ada darah yang bereaksi dengan lambung atau disebut pendarahan," kata Djaja memaparkan analisisnya.

Image result for Djaja Surya Atmadja

- Djaja juga mengungkap fakta baru bahwa sianida ada di lambung setiap orang. "Pada orang normal kalau diperiksa di lambung pasti ada sianida tapi kadarnya kecil," ungkap dia.

- Menurut Djaja, kadar kecil sianida dalam lambung setiap orang tidak akan mengakibatkan kematian. Seseorang akan meninggal dunia bila terdapat sianida dalam jumlah besar di lambungnya.

" Bisa bikin mati kalau masuknya banyak dan meracuni tubuh. Dalam literatur, jumlah yang bisa bikin orang mati itu 150 mg sampai 250 mg per liter," kata Djaja.

- Sementara dalam lambung Mirna, jumlah sianida yang ditemukan 0,2 miligram. Jumlah temuan tersebut, menurut dia, masih dalam batas kewajaran.

" Jadi, sianida yang membunuh seseorang itu jumlahnya harus banyak, 150 miligram sampai 250 miligram. Dan itu menguap di seluruh tubuh. Kalau tidak ada di lambung, saya simpulkan (Mirna) mati bukan karena sianida," terang Djaja yang telah menangani hampir 3 ribu kasus pemeriksaan mayat. Di antaranya adalah kasus identifikasi serdadu Jepang dalam Perang Dunia ke-2 di Papua dan juga kasus Bom Bali 1 pada 2002.

- Menurut dia, jika memang sianida yang menyebabkan kematian Mirna, maka racun tersebut harusnya ditemukan di sejumlah organ tubuh lainnya.

" Bicara soal sianida, di sekeliling kita sebenarnya banyak sianida. Dari rokok, ada sianida. Bakar sampah ada sianida. Kopi ada sianida. Polusi ada sianida. Sianida itu berbahaya dan sampai mematikan, kalau kadar yang masuk ke tubuh itu dalam jumlah besar. Kalau memang keracunan sianida, pasti akan ditemukan banyak tertinggal, baik di lambung, empedu, sampai di hati," beber dia.
" Kalau sedikit (sianida) tidak ada gejala karena ada enzim rodanase. Jadi akan dibawa ke hati, dihancurkan di hati detoksifikasi. Itu akan dibuang melalui urine. Kalau sianida masuk banyak, rodanase tidak sanggup menghancurkan itu," Djaja melanjutkan.

0 comments:

Post a Comment