Jumat, 28 Oktober 2016

CUCU KANDUNG DI SETUBUHI KAKEKNYA SENDIRI

Image result for cerita mesum

CERITA SEX | CERITA HOT | CERITA DEWASA | CERITA SEX DEWASA | CERITA HOT DEWASA | Cucu Kandung Di Setubuhi Kakeknya Sendiri -  Kakek tua yang seharusnya mencari bekal untuk persiapan kematiannya malah justru berbuat cabul terhadap cucunya. Dasar tua-tua keladi, makin tua makin menjadi, nafsu telah membutakan segalanya. Seperti apa kisah cerita sex sedarah ini, simak berikut ini..




CERITA DEWASA - Cucu Kandung Di Setubuhi Kakeknya Sendiri | Perkenalkan namaku Budyanto (bukan nama sebenarnya), saat ini usiaku telah menginjak 63 tahun. Boleh dibilang untuk urusan main perempuan aku pakarnya. Ini bisa kukatakan karena pada saat usiaku 13 tahun aku sampai menghamili 3 temanku sekaligus. Dan di usiaku ke 17 sampai dengan 5 orang teman yang aku hamili, satu di antaranya Winnie, seorang gadis peranakan Belanda dan Cina yang pada akhirnya aku terpaksa mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi atas kenakalanku dibanding gadis lain. Winnie sampai memberiku 3 orang anak, tetapi selama aku mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan karena Winnie harus tinggal di Belanda karena sakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu, otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku tetap di Indonesia.
 Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.

- Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.
 Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, newiklanpoker.blogspot.com sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.

- Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.

" Dhea… kamu lagi… ngapain?"
" Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…"

- Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.

" Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach.."
" Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…"
" Sini Kakek.. juga mau nonton," kataku sambil duduk di sebelahnya.
" Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?" katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
" Nggak… ayo pindahin channel-nya!"

- Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku.

" Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?" Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku.

- Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.

" Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah."
" Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal."

- Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.

" Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!"
" Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya."
" Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini."

- Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.

" Ah… Ah… ssh.. sshh…" Pelan-pelan jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubang kemaluannya yang masih sangat rapat.
" Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…" jerit kecil Dhea.

- Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.

" Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih."
" Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya."

- Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan.

" Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…" Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku.

- Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku.

" Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…" Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.

- Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.

" Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…"
" Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…"

- Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya.

" Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!" Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
" Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!"
" Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?"

- Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.
 Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa.

" Agh… agh.. agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek.. aw… aw…"

- Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea.

" Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memeng… hebat…"

- Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.

" Kakek… habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang.. kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea."
" Hah.. Marsha jangan… telanjang!"

- Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Dhea. majalahsex.com Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.

" Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat."
" Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek."
" Iya.. Kek.. Marsha mau sekali."

- Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata.

" Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit." Marsha pun menuruti permintaanku.

- Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos.

" Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…" Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya.

- Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.

" Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…" Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir.

newiklanpoker.blogspot.com, Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.

" Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali.."
" Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea."
" Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya."

- Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya.

" Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…" komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya.

- Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan.

" Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Marsha.. nggak kuat… Kek… Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…"

- Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir.

" Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…" Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa.

- Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.

" Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!"
" Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!"
" Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak.."
" Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin."

- Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku!!!*****TAMAT.


Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Membaca Cerita Dewasa Yang Sebelumnya Klik Di Sini ya Para Pembaca Cerita Dewasa...

Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Mendaftar Dan Mencoba Keberuntungan Klik Di Sini Ya Para Pembaca Dewasa...

Rabu, 26 Oktober 2016

PERISTIWA GADIS PENGHIBUR

Image result for cerita sex

CERITA SEX | CERITA HOT | CERITA DEWASA | CERITA SEX DEWASA | CERITA HOT DEWASA | Peristiwa Gadis Penghibur -  Rahma (nama samaran) gadis yang malang penuh dengan siksaan dan paksaan orang tua, yang akhirnya terjun kedunia hitam jadi bulan- bulanan nafsu sex para lelaki hidung belang. Rahmah tidak tahu kemana lagi mengadukan nasipnya, hanya di benaknya bagaimana bisa makan dan tidur. Ramah coba-coba ingin merubah nasip menjual diri di caf?-caf? dengan. Hal ini Ramah menceritakan kisahnya pada penulis. Di suatu malam yang sangat dingin, hujan grimis mengguyur tubuh penulis yang saat itu melintas di ruas Jalan Marelan tiba-tiba tidak di sengaja terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun tembus pandang.




CERITA DEWASA - Peristiwa Gadis Penghibur | Tubuhnya yang mungil dan cantik di terpa angin yang kencang. Sekali-sekali dirinya menggigil menahan dinginnya cuaca malam itu. Penulis yang masih terus penasaran melihat tindakan gadis tersebut. Terlintas juga dalam benak penulis “gadis cantik seperti itu lagi ngapain di muka cafe ? sementara di dalam caf? pengunjung sepi ” inilah yang terlintas dalam benak penulis. Akhirnya penulis mencoba memberanikan diri menyapa gadis yang memakai baju warna putih tembus pandang.

" HaiO lagi ngapain mbak ? dia mejawab dengan ramah " ngga ada, cuman nongkorong doang.
" Selanjutnya penulis mengenalkan diri pada gadis cantik tersebut mengaku namanya “Ramah”

- Kurang lebih limabelas menit dimuka caf?, penulis mengajak gadis itu kedalam caf?. Sesampainya dalam caf?

" penulis menanyakan " Ramah minum apa ?
" dijawabnya terserah apa aja bang."

- Pelayan caf? juga tiba di muka kami, yang tidak kalah sexsi dan cantiknya dari Ramah memakai rok mini di atas lutut. Pelayan caf? sangat ramah juga genit, sekali-sekali tangannya suka menggoda dan merabah-rabah paha pengunjung. Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung caf? sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan caf?, saat itu jam 1.30 Wibb. Ramah yang dari tadi hanya tertunduk sepertinya butuh perhatian, sekali-sekali Ramah menebarkan senyum yang menggoda. Panjang lebar cerita hujanpun tidak kunjung berhenti, minuman Jus sudah habis, pemilik caf? menyhiapkan barang-barangnya untuk tutup. Ramah mulai buka cerita dengan sifat yang agak malu- malu, sambil mengatakan
" bang cafenya sudah maututup kita cek in yo? " mendengar ajakan Ramah penulis terdiam sejenak.

- Ramah sepertinya tidak habis pikir, kenapa saya tidak mau menjawabnya.
" Ramah bertanya lagi " bang ayo donkO! aku mau cerita lebih jauh lagi ama abang.

- Akhirnya aku kabulkan ajakan Ramah karena penuh dengan harapan akan mendapat cerita dari Ramah. Akhirnya kami bergegas mau pergi,

" Pemilik caf? langsung menegur abang mau pulang ?"
" aku jawab ia tante."
" Nanti sakit, inikan masih hujan!"
" Aku jawab kayaknya hujannya ini lama tante".
" CKami pulang tante ?
" VDi jawabnya iaO! Hati- hati di jalan licin bang."
" Aku jawab lagi ia tante."

- Kami langsung menuju ke arah Simalingkar salah satu caf? and bar dekat Hotel Royal Sumatera. Sewaktu dalam perjalanan Ramah memeluk aku sangat kencang sepertinya takut kehilangan. Dalam perjalan itu aku bertanya 'Ramah kamu cantik, kok maunya kerjaan seperti ini ? ' Jawab Ramah 'bang kalau masih ada kerjaan yang lebih hina dari sini akan kurjakan walaupun itu pahit. Maksud Ramah gimana ? Ramah juga tidak mau kerja ini tapi orang tua Ramah sendiri menghancurkan masa depan Ramah. Ramah tidak diterima dilingkungan keluarga lagi bang. Kalau kuceritakan kehidupan aku mungkin satu malam ini belum selesai. Tapi itupun kalau abang mendesakku nanti ada waktunya bang, Ramah akan ceritakan semuanya buat abang. Kamipun sampai dalam tujuan, aku kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicaf? tersebut. Sesampainya dicafe Ramah langsung didekati seorang laki-laki separuh baya yang notabenya om-om. Yang pasti aku tidak tahu persis apa cerita orang itu, hanya melihat Ramah dipeluk silaki-laki tadi dengan erat sambil mencium bibir Ramah di tengah-tengah lampu yang samar-samar. Lanjut cerita gadis malang itu mulai bergegas mau pergi bersama silaki-laki yang kehausan nafsu dengan kondisi setengah mabuk. Sebelum pergi Ramah mendekatiku sambil mengatakan 'bang Ramah mau pergi, pokonya besok aku hubungi abang, ok bang ?' aku mengiyakannya. Ramah langsung pergi menaiki mobil laki-laki itu untuk meninggalkan caf?. Akupun tidak tinggal diam untuk melacak mangsa tulisanku luput sampai disitu. Kupanggil pelayan caf? untuk membayar minuman. Tapi lain jawaban pelayan 'bang minumannya sudah dibayar om tadi'. sebelum pergi meninggalkan caf? kuberikan tip sama pelayan caf? yang menemaniku untuk pamitan pulang. Sampai dimukan caf? kuperhatikan mobil laki-laki itu kemana arahnya. Kuikuti dari belakang sampai mobil itu belok kesalah satu tempat penginapan yang berkelas di Simalingkar.

- YaOkutinggalkan setelah dapat kepastian mereka menginap di hotel tersebut. Sesampainya di simpang kampus Universitas Sumatera Utara (USU) aku berhenti di satu caf? kecil minum (TST) Teh Susu Terlor. Cerita Sex
Selama satu jam aku di caf? itu, tiba-tiba ponselku bunyi dengan nada panggilan. Kuangkat poselku kulihat nomornya sepertinya tidak aku kenal.  Aku sempat kaget tengah malam kegini siapa lagi yang menghubungiku terlintas dalam benak aku. Ponsel berbunyi terus kubiarkan sampai tiga kali panggilan baru kuangkat. Sangat kaget mendengar sautan dalam posel itu terdengar suara perempuan baru kukenal. Menjawab pertanyanku dengan manja sambil mengajak aku untuk menginap. Mendengar ajakan ini aku tidak percaya bahwa Ramah mau menginap bersamaku, sementara dianya masih bersama laki-laki barusan 2 jam kutinganggalkan. Ramah mengatakan kalau laki- laki tadi tidak bisa menginap sampai pagi, karena takut ketahuan sama istri dan anaknya. Aku tanya ini no HP siapa ? Ramah jawab om tadi kupinjam. Kutanya lagi berarti dia masih ada di ruang kamar ? Ramah menjawab ia, tapi dia udah mau pulang bang, abang datang ya ? aku tunggu Ramah tidak ada kawan, cepat donk bang. Desakan ini aku tidak mudah terpengaruh, karena takut ada kejadian yang tidak di inginkan nanti. Kurang lebih 30 menit hari hampir pagi jam 4.23 Wibb aku menghubungi Ramah melalui ponselnya. Ramah mengangkat dengan nada kesal 'abang dimana kok ngga datang ?. cepat donk aku tidak ada kawan nihO!.

- Akhirinya aku beranikan diri balik lagi kehotel tersebut. Kuperhatikan mobil silaki-laki setengah baya yang tadi kutinggalkan di tempat parkir, memang tidak ada. Aku tanya langsung pejaga hotel, menjawabnya sudah pulang bang, abang itu tiap menginap di hotel ini sampai jam 3.00 Wib saja bang. Abang mau ngapain ? kujawab dengan nada yang ramah dan sopan “aku barusan di hubungi cewek kawan bapak tadi. belum habis aku ngomong langsung penjaga itu potong Ramah bang ? katanya, ia bang. Ada di kamar 19, masuk aja bang, ngga apa-apa itu disini bisa kita jaga kemanan. Ok bang terimakasih yang bang, aku balik jawab. Langsung menuju kekamar no 19 kuketuk pintu kamar langsung di buka gadis seorang diri dengan mengenakan gaun tidur tembus pandang. Sepertinya Ramah tidak memakai BH als pembalut buah dada, hanya segi tiga transparan yang nampak. Mulai dari ujung rambut kuperhatikan sampai ujung kuku serta seisi dalam kamar itu sebulum masuk. Diperselakan masuk sambil menarik tanganku kedalam, 'kok takut-takut masuk donk bang, ngga apa-apa kok'.

- Tanggan Ramah yang nakal hampir membuat aku jadi tidak terkontrol. Ramah memang cantik, putih dan seksi tidak di temui satupun bekas luka ditubunya. Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang. aku tertunduk sejenak di pinggir tempat tidur sambil mengisap rokok Sampoerna, sementara Ramah tidur dipagkuan aku sambil memeluk pinggangku. Rokok sudah habis aku ambilkan tas kecilku yang di dalamnya ada alat perekam suara, langsung kuhidupkan. Ramah memang nakal, mau tahu aja apa isi dalam tas aku. Dia mengambilnya dan mengeluarkan tipe rekamannya, memutar balik isi kaset. Baru Ramah tahu mulai dari perteman tadi dianya ngomong aku rekam. Saat itu juga gadis yang seksi, manja mencubitku dengan kesal. “abang kok tega kali merekam suara Ramah, untuk apa bang ?, abang wartawan ya ? jahat abang, aku ngga mau lagi cerita ama abang. Rupanya abang wartawan pantasan abang mulai dari tadi ngebutkali mendengar kisah Ramah kenapa terjuan kedunia malam”. Ramah yang dari tadi nakal, kontan langsung terdiam dan membelakangi aku. Sementara radio rekamannya dia pegang, aku minta dia ngga kasih. Bahkan dia mengatakan 'abang puas ya menanyai Ramah hanya untuk kesenangan abang, malunya untuk ramah, berarti abang ikut donk menghancurkan Ramah dan mempermalukan ramah di muka umum'.
 Aku berusaha meyakininya dengan rasa sayang, kukecup pipinya yang menandakan aku bukan untuk mempermalukannya. Tapi aku ingin mengangkat kisahnya untuk membantu sakit hati Ramah yang selama ini dipendam seperti bara yang sangat merah dan panas. Ramah kupeluk, kusayang, akhirnya Ramah mengalah memberikan rekamannya. Ramah yang marah akhirnya bisaku redahkan kemarahannya. Sampai setengah jam Ramah tidak mau cakap, Ramah diam dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur yang empuk tanpa menghiraukan aku.
- Aku termenung sejenak memikirkan cara apa lagi kubuat untuk mengajak Ramah ceritakan kisahnya. Dengan ide yang cemermalang terlintas di benakku untuk merayu dengan posisi yang sama. Akhirnya pertahaan Ramah kandas juga, Ramah membalikkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap aku. Dia senyum sambil memelukku sambil bertanya. Apasih gunanya abang muat di koran kisah Ramah ? abang jahat kali ya ? apa memang wartawan seperti itu ? sukanya memberitakan kesusahan orang lain. Aku jawab dengan nada yang ramah serta menebar senyuman yang memikat hati Ramah agar ianya dapat yakin dan percaya. Ramah yang manja dan seksi akhirnya luluh tersenyum dengan iklas meceritakan kisah hidupnya sampai terjun ke dunia hitam untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang. Ramah bercerita pajang lebar tentang kisah hidupnya pada penulis pada pukul 4.30 Wib sampai pukul 7.30 pagi. Berawal dari ceritanya gadis cantik ini sangat lugu takut dengan laki- laki, bahkan banyak sekali kawan-kawan Ramah yang mengejeknya kampungan. Tapi itu semua tidak pernah dia masukkan dalam hati hanya dianggapnya sebatas kuping saja. Waktu itu Ramah masih duduk di bangku SMA Swasta kelas dua di Medan. Dengan keluguan Ramah banyak sekali para lelaki satu lokalnya menaruh hati sama aku. lain orang lain tingkah lakunya beratus teori yang di buat cowok-cowok keren yang mendekatinya, yang namanya cinta belum juga ada di benaknya.

- Suatu waktu yang tidak di sangka Ramah ketemu dengan seorang pemuda yang baik hati ianya Roni (nama samarannya) berhasil memikat hati Ramah. Penuh dengan rayuan dan kemesrahan yang berjalan cukup lumayan sampai kejenjang penikahan. Awal dari kesukaan Ramah pada Roni penuh dengan kejujuran dan kebaikannya di mata Ramah membuatnya tergila-gila dengan Roni. Saat yang di nanti-nantikan Roni mulai berani bercanda mengajak Ramah jalan-jalan ke salahsatu tepat perbelanjaan. Ajak ini tidak disangkah Roni kalau ramah langsung menyetujuinya. Perjalananpun dilanjutkan kesebuah plaza dengan mesra Roni memberanikan dirimemegang jari tangan Ramah yang lembut dan halus. Sentuhan itu membuat hati Ramah berdebar-debar seperti baru terkena strum listrik. Padahal menurutnya banyak cowok yang jahil menyentuh tangannya, satupun belum pernah ia rasakan detak jantung seperti ini. Ramah membalas sentuhan tangan Roni sampai pada gemgaman yang gemas sama-sama dilakukan. Roni menarik tangan Ramah sambil mengecup kulit tangan Ramah yang halus penuh dengan arti dan kasih sayang yang tidak bisa dituturkan.
 Sesampai plaza Ramah mengajak Roni keliling-keling di dalam plaza. Aku mulai sudah lelah Roni juga kelelahan. Aku kasihan melihat Roni aku ajak dia pulang kerumahku, sesampainya kami dirumah ternyata kedua orang tuaku bekum juga pulang kerja, yang ada adik aku barung pulang sekolah. Kami melanjutkan ngobrolnya di ruang tamu sambil nonton TV Flim Sinetron yang di bintangi Rano Karno sema menjalin cinta remaja di bangku sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wibb Roni dengan sopan berpamitan sama aku. Dengan kesopanan Roni juga membuat aku terus bertambah sayang dan cinta sama dia. Tanpa kami sadari Tiga bulan sudah berjalan hubungan aku dengan Roni. Hubungan baik itu melalui telepon atau ketemu disekolah terus berlanjut. Roni sudah mengenalkan aku pada orang tuanya, dan aku sudah mengenalkan Roni pada kedua orang tuaku. Semula kedua orang tuaku tidak pernah mempersoalkan hubunganku dengan Roni sampai kami naik kelas tiga. Sewaktu hari libur kawan-kawan aku mengajak rekreasi dipantai kasan. Roni menyetujuinya, aku senang karena Roni mau ikut bersama-sama. Kami berangkat tiga pasangan yang semuanya pacaran, ongkos kami kumpul- kumpul bersama.

- Tiba waktunya aku pun menunggu angkot berjanji jumpa di sipang Amplas. Pukul 9.30 wibb sudah kumpul semuanya, langsung menaiki mobil bersama-sama kepemandian. Sesampainya di sana masing-masing pasangan berpencar menyewa gubuk yang ada dipinggir pantai. Roni masih malu-malu untuk menyewa gubuk buat kami berdua yang di luar. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang aku mengkedipkan mata agar Roni berani menyewakan gubuk buat kami. Akhirnya Roni mengajak aku menyewa gubuk pas dipinggir pantai. Cuaca mulai mendung kami ganti baju untuk sama- sama berenang. Satu jam penuh berenang perut mulai mulas dan terasa nyeri menahankan lapar. Setenga jam kemudian kami dengan bersama-sama berhenti mandi untuk makan di tepi pantai Kasan. Mandi sudah, makanpun sudah tinggal istrihat dulu baru nunggu sore baru mandi lagi siap mandi baru pulang. Kebetulan siap makan hujan grimis pun tiba, kami sangat khawatir kalau pantai ini akan meluap nantinya. Tapi kekawatiran ini hilang begitu saja sesaat aku berdua dengan Roni di dalam gubuk.
 Hujan makin lebat, Roni menutup pintu gubuk, suasana makin dingin Roni menatapku dengan lembut. Saat aku menggeser posisi dudukku Roni menarik tanganku, sambil merangkul bahuku. Aku terkejut dengan napas yang agak kencang, jantungku berdebar-debar ada rasa benci dan suka. Roni tidak menghintakan jemarinya di bahuku, tangannya mulai menjulur ke pinggangku meletakkan tangannya di atas pahaku yang di balut dengan celana renangku yang basah kuyup. Roni mencium leherku dan kupingku, aku meronta dengan kecil sambil mengatakan jangan bang, nanti kalau kita sudah kawinkan abang bisa melakukannya. Roni tidak mendengar keluhanku bahkan ia merayuku dengan kata-kata dan gombalan sambil mengatakan 'aku mau bertanggung jawab untuk mengawinimu, aku sumpah demi tuhan” kebetulan Roni beragama Islam aku keristen. Kutanya roni lagi apa orang tua abang mau menerimaku ' dia jawab aku sudah bilang sama orang tuaku mereka setujuh, terserah pilihan aku ' akhirnya pertahananku kandaslah sudah. Aku pasra Roni menciumi aku mulai dari ujung rambut sampai kakiku, dengan penuh rasa sayang dan menikmati keindahan tubuhku. Aku tidak tahan perlakuan Roni, membuat aku macam cacing kepanasan sambil membalas cubuan Roni.

- Melihat perlawanku Roni semakin semangat sambil berusaha membuka baju dan celana renangku, dengan sekejap baju dan celanaku sudah lepas dari tubuhku. Tubuhku yang putih mulus hanya di balut segi tiga dan BH. Melihat kemontokan tubuhku Roni sempat terpelongo sejenak melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya secara langsung selain dengan menonton fliim biru. Dengan secepat kilat Roni melepaskan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuhnya. Aku terkejut dan malu melihat Roni telanjang bulat di hadapanku, dadanya yang kekar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku teringat kata-kata kawan aku, kalau ada bulu tubuh di dada pria nafsunya tinggi, mengingat ini akau gemetar. Tanpa di komandoi tangan Roni yang lincah membuat aku kehilangan konstrasi. Aku gelagapan menyeimbangi jamahan dan ciuman yang di lakukan Roni samaku. Aku hampir lemas dengan cumbuan Roni yang membuatku tidak sadar diri sumua pembalut tubuhku telepas sudah seperti anak yang baru dilahirkan tanpa sehelai benangpun yang menghalanginya. Roni mulai meningkatkan serangannya maaf pembaca “dengan menjilat milikku yang paling berharga'.
 Aku tidak tahu apa lagi yang dilakukan Roni yang jelas membuat aku menggelinjang- gelinjang. Roni menindihku sambil membuat ancang-ancang diatas tubuhku sambil mengarahkan basokanya sambil menciumi leherku dan telingaku. Saat tubuh Roni peling bawah menekan milikku terasa nyeri dan sakit. Mendengar jeritanku Roni merasa kasihan dan menghentikan aksinya sebentar. Sambil mempermainkan buah kembar milikku, selang beberapa minit Roni mengulangi aksinya sambil menekan dengan pelan-pelan, tapi sangat luar biasa sakitnya. Aku baru kali itu di cium laki- laki, apalagi untuk di gitui. Roni mulai tidak sabar menikmati milikku, akhirnya dia menekannya dengan keras, aku menjerit kesakitan. Roni berhasil membongkar pintu milikku yang kian lama kujaga, Roni tidak bergerak dia membiarkan miliknya didalam miliku.

- Sekali-sekali Roni mengangkat tubuhnya dengan lembut, aku mulai merasakan nikmat bercampur sakit kurang lebih lima belas menit Roni mengerang dan terkulai lemas di sampingku. Aku memaki diriku sambil menangis, kenapa aku segampang itu mengikuti godaan setan yang menimpahku. Aku mau duduk terasa sakit di selangkanganku, Roni kulihat dengan senyum sambil memeluk aku. dia meyakinkan aku bahwa dirinya tidak akan menyia-nyiakanku sampai kapanpun dia tetap bertanggungjawab katanya padaku. Dengan kata-kata bang Roni membuat aku tidak ada apa-apanya dimuka dia aku tertunduk dan patuh pada perintahnya!!!*****TAMAT.


Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Membaca Cerita Dewasa Yang Sebelumnya Klik Di Sini ya Para Pembaca Cerita Dewasa...

Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Mendaftar Dan Mencoba Keberuntungan Klik Di Sini Ya Para Pembaca Dewasa...

Selasa, 25 Oktober 2016

PERISTIWA TAK TERDUGA

Image result for cerita mesum

CERITA SEX | CERITA HOT | CERITA DEWASA | CERITA SEX DEWASA | CERITA HOT DEWASA | Peristiwa Tak Terduga - Sebelumnya perkenalkan nama sy Jack. Sy tinggal di US, umur sy sekarang 25 thn dan kejadian ini kira-kira 6 bulan lalu. Waktu itu sy baru saja putus dengan pacar sy dan mengalami stress berat, maklum hubungan kita di putus oleh orang tuanya.




CERITA DEWASA - Peristiwa Tak Terduga | Cerita sex terbaru, Sy mempunyai teman cewek yg bernama Naya (nama samaran), sy sangat dekat dengan Naya walaupun sy tdk tertarik untuk menjadikannya pacar sy. setiap kali sy habis bertengkar dengan pacar sy, pasti sy menceritakan semuanya pada Naya.
Waktu itu malam sabtu (weekend di US), hari itu sy putus total dengan cewek sy, sy stress berat dan Naya pun mengetahuinya, apartemennya tdk terlalu jauh dari rumah sy dan sy pun mengajaknya keluar, mencoba mengurangi stress sy, maka pergilah kita ke bar kesukaan sy. Naya merupakan anak baik-baik dan karena stress, sy minum banyak sekali sampai akhirnya dia yg harus menyetir mobil saat kami pulang. Dalam perjalanan pulang, sy masih bisa mendengar saat dia menangis ketakutan melihat keadaan sy.

" Aduhh Jack kamu kok jadi begini.." itulah yg cuma bisa dia katakan dalam isakannya.
" Bawa gw ke motel aja Nay.. tinggalin gw di motel juga deh.. loe nggak usah anter gw pulang", sy masih bisa ingat akan ucapan sy kepada Naya dengan agak membentak, karena sy tdk mau pulang dalam keadaan mabuk, karena pasti ibu sy akan marah besar melihat keadaan sy yg sedang mabuk berat. Dengan agak kaget Naya pun menurut saja apa kata sy.

- Setibanya di motel sy di bopong oleh Naya memasuki kamar, dan dia mulai menangis lagi.

" Kenapa nangis sih Nay.. harusnya gw yg nangis dong!" itulah kata-kata yg sy ucapkan, maklum waktu itu sy agak ngelantur walaupun masih sadar, dia cuma bisa mengangguk-anggukan kepalanya.
" Loe pulang aja deh.. bawa aja mobil gw.. terus jemput gw aja besok siang", kataku karena waktu itu sudah jem 3 pagi. Keadaan semakin larut.
" Nggak.. gw stay aja di sini nemenin elo.. baru besok kita pulang barengan", katanya membalas. Karena kepalaku sudah pusing, aku mengiyakan saja, setelah itu sy pergi ke kamar mandi dengan berjalan agak sempoyongan
" Hati-hati Jack.. mau aku temenin?" katanya saat melihat keadaanku.
" Boleh aja tapi nanti tutup mata ya, nanti suka gawat soalnya", kataku agak jahil.

- Naya cuma bisa tersenyum dan mengangguk. Hmm.. waktu kulihat Naya tersenyum, sepertinya senyum termanis yg pernah sy lihat, tdk tahu apakah senyuman yg hanya bisa di lihat orang mabuk atau memang karena dia memiliki senyum yg manis yg selama ini tdk pernah sy perhatikan.
Sesampainya di kamar mandi dia cuma mengantarkan sy sampai di depan pintu, dan dengan agak tergesa sy mencoba membuka reitsleting celana sy yg rupanya reitsleting itu patah yg menjadikan sy agak panik karena menahan kencing. Melihat keadaan sy yg agak panik rupanya Naya spontan menghampiri sy dan mencoba membetulkan reitsleting celana sy.

- Akhirnya karena sudah terpaksa, sy buka celana sy dan menyuruh Naya untuk membawa celana sy dan mencoba untuk membetulkannya. Walaupun masih ada celana dalam, rupanya Naya agak kaget sewaktu sy membuka celana dan mulailah sy kencing yg sudah sy tahan sejak tadi dan sewaktu sy perhatikan di cermin, nampak sepasang mata Naya yg sedang memperhatikan adik kecilku dengan agak kaget ketika kulihat wajahnya, tampangnya agak sedikit terangsang, rupanya di perhatikan begitu aku malah terangsang juga dan dengan beberapa kejap saja bangunlah adikku, dan sewaktu kulihat wajahnya, dia pun melihat wajahku, nampaknya dia kaget dan malu, wajahnya yg berkulit sawo matang itu mulai memerah.

" Ayoo ngintip ya.. kan udah di bilang jangan lihat nanti suka..” kataku sambil berjalan menghampirinya.

- Naya cuma tersenyum dan menundukkan kepalanya. Sesampainya di ranjang, aku membaringkan tubuhku dan kulihat Naya hanya duduk di samping tempat tidur.

" Heh mau tidur apa nggak? udah jangan mengkhayal yg nggak-nggak deh, nanti mau juga lagi..” kataku sembari menggodanya.
" Enak aja sapa yg mengkhayal.." ujar Naya membela.
" Lalu?" godaku.
" Nggak pa-pa gw cuman aneh aja.." balasnya sembari tertawa kecil.
" Lah.. aneh kenapa?" kataku.
" Ya aneh aja, tadi kecil kok cepet aja bisa besarnya", katanya tertawa, aku pun mulai memutar otak mencari akal untuk merasakan tubuh indahnya, lalu kutarik tangan Naya, mengajaknya ke ranjang.
" Sini deh, gw kasih tau.. tapi jangan kasih tau siapa-siapa oke?" kataku penuh hawa mesum.
" Boleh nih..?" katanya sambil tersenyum.
" Ya kenapa nggak.. itung-itung pendidikan", kataku lagi mencoba menenangkan diriku.

- Naya pun duduk di ranjang, keadaanku yg tadi terbaring kini duduk berdampingan dan kucoba merangkul pundaknya. Dengan hanya memakai celana dalam saja, kucoba meletakkan tangan Naya ke arah burungku tapi dia menarik tangannya kembali.

" Nggak deh, ini gila.. gw nggak bisa", kata Naya dengan nada ketakutan.
Kecewanya hatiku mendengar kata-kata Naya tapi aku tdk mau menyerah begitu saja,
" Iya sih ini gila, seharusnya ada pemanasan dulu biar loe nggak bilang ini gila.." kataku seenaknya, dia hanya diam saja sambil menunduk.

- Kurangkulkan tanganku lebih erat ke pundaknya dan mencoba mengangkat kepalanya yg menunduk, dia menuruti kemauanku. Entah dari mana kebeNayaanku mencium bibir Naya dan indahnya dia mengikuti ciumanku. Kita berciuman agak lama dan kucoba menidurkannya dan memakaikan selimut di tubuhnya karana AC di motel yg cukup dingin. Tanganku mulai bergerilya di daerah dadanya dan mencoba membuka kaos dan BH-nya, dia diam saja sambil memelukku.
Setelah berhasil, kulihat payudaranya yg tdk begitu besar tapi sangat indah dengan puting susunya yg merah. Tdk kulepaskan kesempatan ini, langsung kucium putingnya yg merah muda itu, rupanya Naya tdk bisa tinggal diam saja, dia pun mulai memegang penisku dan mengocoknya perlahan. Aku pun tdk tinggal diam, aku mulai melucuti celananya dan kini kita berdua sudah telanjang bulat tetapi masih di tutupi selimut.

" Jack jangan dimasukin ya.. aku takut", kata Naya diantara desahannya.
" Tenang aja kok Nay gw nggak masukin.." kataku menenangkannya.

- Aku mulai menggesek-gesekkan penisku tepat di atas liang kewanitaannya. Rupanya dia mulai membasah, hal ini bisa kurasakan karena licinnya bibir kemaluannya. Kupindahkan jariku untuk memegang liang kewanitaannya dan mulailah kumasukkan jari tengahku sedikit demi sedikit.
 Rupanya dia keenakan, lalu kupindahkan lagi tanganku menuju payudaranya. Alangkah terkejutnya dia, saat itu juga dia mencoba memasukkan penisku ke liang senggamanya. Aku pun diam saja menuruti kemauannya. Ketika masuk setengahnya, dia memintaku berhenti karena kesakitan, aku pun mengiyakan dan mencoba untuk membantu dengan meludahi jariku dan kugesekkan ke kepala penisku untuk melicinkannya dan aku pun mencoba lagi untuk memasukkannya.

- Setelah beberapa kali mencoba, amblas juga batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya dan kudiamkan beberapa saat. Naya pun masih dalam keadaan shock karena keenakan. Kemudian kucoba memaju-mundurkan secara perlahan. Setiap kali kugerakkan dia selalu mendesah,

" Ahh.. ehh.." Lama-lama gerakanku pun semakin bernafsu, aku mulai mencoba berdiri dan dia masih telentang.

- Kucoba berbagai macam gaya hingga akhirnya aku tak tahan juga.

" Nay, aku mau keluar.." kataku agak serak.
" Di dalam aja Jack.. dua hari lagi aku bakalan mens", kata Naya berucap dengan mata tertutup.

- Kukocokkan penisku semakin cepat di dalam liang kewanitaannya dan rupanya Naya pun mau keluar, dia memegangi pahaku dan mencengkramnya kuat-kuat, aku pun semakin bernafsu.

" Ahkk.. ahkk.." Naya pun mengeluarkan cairan hangat dari dalam liang kewanitaannya yg kurasakan menyemprot ke penisku yg berada di dalam liang senggamanya dan tak berapa lama kamudian aku mengeluarkan cairan spermaku.

- Akhirnya kita berdua pun tertidur sambil berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.
 Keesokan paginya, aku mengantarkannya pulang tanpa mengucapkan kata-kata di mobil. Ada perasaan menyesal karena aku tdk bisa mencintai Naya walaupun kita telah melakukan hubungan badan.

" Maaf sy khilaf.." itulah kata-kata terakhir dari sy untuk Naya!!!*****TAMAT


Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Membaca Cerita Dewasa Yang Sebelumnya Klik Di Sini ya Para Pembaca Cerita Dewasa...

Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Mendaftar Dan Mencoba Keberuntungan Klik Di Sini Ya Para Pembaca Dewasa...

Jumat, 21 Oktober 2016

KASUS PERKOSAAN YANG BRUTAL

Image result for cerita dewasa

CERITA SEX | CERITA HOT | CERITA DEWASA | CERITA SEX DEWASA | CERITA HOT DEWASA | Kasus Perkosaan Yang Brutal - Pemerkosaan seksual dalam beragam bentuk hampir setiap hari terjadi di seputar kita. Baca saja koran-koran kuning ibu kota yang pada setiap hari penerbitannya selalu memuat berita pemerkosaan atau tindak kekerasan seksual lainnya. Bahkan hampir setiap minggu berita-berita pemerkosaan menjadi headline.




CERITA DEWASA - Kasus Perkosaan Yang Brutal | Secara harfiah kata pemerkosaan berarti, memaksakan kehendak. Seseorang memperkosa secara seksual pada orang lain, artinya sesorang memaksakan kehendaknya atas segala yang dia pikirkan dan lakukan secara seksual kepada orang lain dan masa bodoh apakah orang lain itu senang atau tidak senang dengan apa yang dia lakukan. Prinsip memaksakan kehendak itulah yang menetapkan, bagaimanapun juga, sebuah pemerkosaan adalah sebuah kejahatan. Artinya pemerkosaan seksual adalah perbuatan yang penuh kepengecutan, noda dan pelanggaran hukum yang bisa mendatangkan penderitaan pada sang korban dan hukuman fisik dunia bagi para pelakunya.
 Beberapa orang korban pemerkosaan atau orang dekatnya telah mengirimkan informasi atau kisah melalui e’mail ke saya. Ternyata demikian banyak ragam pemerkosaan, baik dari segi motif-nya, pemicunya, situasi saat pemerkosaan berlangsung, akibat sesudahnya dan sebagainya. Secara umum masyarakat memandang korban pemerkosaan sebagai aib. Tetapi di antara para korban tidak seluruhnya menyesali apa yang pernah mereka alami. Bahkan mereka menyebutnya sebagai pengalaman hidup yang indah. Mereka memperoleh sensasi nikmat birahi dari pemerkosaan yang mereka alami. Dalam batas-batas tertentu mereka selalu mengenang bahkan ingin sekali mengalaminya lagi.

- Saat-saat yang paling menyeramkan dalam menghadapi pemerkosaan adalah saat awal terjadinya peristiwa. Rata-rata korban sangat ketakutan atas kemungkinannya tindakan keras dan kasar yang bisa melukai fisiknya atau bahkan mengancam jiwanya. Dan banyak para pemerkosa, yang biasanya memang lantas ketagihan untuk mencari korban berikutnya, sangat memahami kelemahan akan tekanan psikologis pada para korban tersebut. Oleh karenanya untuk memperlancar operasionalnya mereka juga menggunakan berbagai bentuk ancaman, baik berupa ancaman fisik lengkap dengan peralatan senjata tajam atau lainnya, juga ancaman mental psikologis misalnya dipermalukan atau mempermalukan di depan orang lain.
 Sesudah melewati saat awal yang menakutkan itu ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi pada sang korban, yaitu, dia menyerah pasrah dan menikmati sebagai bentuk petualangan seksual atau menyerah pasrah dengan tetap merasa menderita, dendam dan tertekan jiwanya. Hal tersebut sangat tergantung konsep alam pikiran maupun kesiagaan dan kesadaran mental setiap orangnya. Tetapi yang paling nyata adalah, apa yang sesungguhnya terjadi sulit sekali bisa dimengerti dan dibaca dari pihak luar.

- Beberapa pelaku sering membela diri bahwa dia tidak memperkosanya, karena dia mengetahui pada saat pemerkosaan berlangsung sang korban nampak begitu menikmati perkosaannya, bahkan ada yang menyatakan ingin mengulangi kenikmatannya lagi. Beberapa komplain atau pengaduan dari korban lebih disebabkan adanya kehendak-kehendak lain di luar perkosaannya itu sendiri, misalnya kekhawatiran akan kemungkinan keluarga suami korban menuntut perceraian karena merasa aib,majalahsex.com atau bahkan minta segera dikawinkan dengan si pemerkosa apabila ternyata belakangan ketahuan hamil dari hasil perkosaannya itu.
Mosaik di bawah ini hanya sebagian hal yang mungkin terjadi dari ribuan kemungkinan lain yang bisa terjadi pula. Dengan nama-nama orang yang disamarkan, dari beberapa informasi itu saya coba susun dan jadikan kisah pemerkosaan seksual khususnya yang dialami para istri sebagaimana yang tertera di bawah ini
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

:: Peristiwa Pertama,
DI ATAS KERETA API MALAM

 Secara rutin aku dengan atau tanpa suamiku pulang mudik setiap 3 bulan. Maklum orang tuaku sudah uzur dan aku sama suamiku, Mas Marsudi, punya cukup waktu untuk jalan sana jalan sini. Anak-anak-ku sudah pada mandiri. Walaupun usiaku baru 42 tahun dan usia Mas Marsudi 47 tahun tetapi kami sudah berstatus kakek & nenek deng 2 cucu yang manis-manis. Kami merupakan pasangan yang sehat dan berbahagia. Sisa-sisa kecantikkan masa mudaku masih banyak menjadi perhatian para pria. Bahkan para perjaka tidak akan mengira kalau aku sudah nenek-nenek. Orang bilang sex appealku sangat menonjol. Dengan tinggi badanku yang 165 cm dan berat tubuh yang 52 kg mereka bilang tubuhku sangat sintal. Suamiku orang swasta yang tak kenal lelah. Ada saja yang dia kerjakan untuk kesejahteraan ekonomi kami. Satu hal yang masih dominan dalam diri kami masing-masing adalah libido kami yang masih terus menggebu. Kami masih melakukan hubungan seks dengan penuh ber-kobar-kobar setidaknya 3 kali seminggu. Kami merupakan pasangan yang bahagia dalam masalah seks ini. Tak ada kekecewaan yang menggelantung sebagaimana yang sering aku dengar dari keluarga yang lain. Aku selalu mendapatkan orgasmeku setiap kali berhubungan dengan suamiku.

- Saat ini kami berada di stasiun Kota, Jakarta, menunggu kedatangan KA BIMA yang akan membawa kami ke Surabaya tempat orang tua kami tinggal. Tepat jam 7.30 malam kereta mulai bergerak ke arah selatan menuju satsiun Gambir, Manggarai dan Jatinegara untuk kemudian akan lurus menuju ke timur hingga stasiun Gubeng, Surabaya.
 Dinginnya gerbong eksekutif BIMA membuat kami memilih banyak tidur. Mas Marsudi sendiri orangnya paling mudah tidur. Aku bilang nggak boleh kesenggol bantal, karena kesenggol sedikit saja dia langsung tidur pulas. Sesudah hidangan makan malam keluar, yang langsung kami santap habis, kembali kami tertidur. Aku sendiri yang tidak begitu tahan dingin, sebentar-sebentar ke toilet untuk membuang air kecil.

- Kuperhatikan kursi di gerbong eksekutip ini sekitar 60 % terisi, maklum bukan hari libur. Mereka nampaknya para pedagang, karyawan yang sedang mendapatkan tugas atau cuti dan sebagainya. Kami kebagian kursi paling belakang, sehingga setiap penumpang selalu melewati kursi kami setiap akan menuju toilet kereta yang lokasinya tepat berada di belakang kursi kami. Dan yang paling aku perhatikan para pria selalu menyempatkan matanya untuk melirik ke aku. Aku sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Sering dalam pikiran nakalku untuk mencoba menggoda mereka, apalagi kalau kebetulan ketemu orang ber-type Bon Jovi yang rambutnya bebas terurai, dadanya yang aduhai. Ah, tetapi itu hanya pikiran ngelanturku. Mas Marsudi walaupun typenya jauh dari yang namanya Bon Jovi telah memberikan segalanya padaku, mau apa lagi.
 Sekitar jam 3 dini hari aku kebelet kencing. Saat aku keluar gerbong menuju toilet kulihat dalam kegelapan ada seorang pria yang sedang menunggu. Rupanya sesorang sedang berada di toilet. Aku malas untuk bolak-balik di atas kereta yang melaju 80 km per jam ini. Aku ikut nunggu saja. Begitu orang keluar dari toilet aku pikir pria yang lebih dahulu menunggu itu bergegas untuk masuk, tetapi ternyata dia tidak bergerak dari tempatnya. Aku pikir dia hanya mau cari angin barangkali. Jadi akulah kini yang bergerak masuk toilet. Begitu aku masuk langsung disambut cahaya lampu toilet yang benderang. Tetapi begitu aku mau menutup pintu tiba-tiba kulihat sebuah tangan berbungkus jaket kulit mengganjal antara daun pintu dengan kusennya. Aku panik, mau apa orang ini. Dia mendorong pintuku demikian kuat yang aku nggak mampu menahannya dia ikut memasuki kamar toilet yang sempit itu. Dia bekap mulutku kuat-kuat dengan tangannya agar aku tidak teriak. Aku sangat ketakutan. Aku panik.

- Aku coba gedor-gedor dinding toilet agar orang-orang lain mendengar dan menolongku, tetapi lajunya kereta yang disertai berisiknya gerbong yang berlari kencang gedoran tanganku hanya sia-sia. Pria itu membisikkan padaku,

" Bu, jangan berisik. Awas nanti kalau kedengaran bapak di sebelah dinding dan kita ketahuan berdua-an di kamar toilet ini akau akan berlagak bahwa ibulah yang menarik aku masuk ke toilet bersama ibu".

- Deg, hatiku langsung terpukul. Dan ternyata dia nggak memberi aku berpikir panjang. Dia langsung singkap rok-ku dan turunkan celana dalamku. Dengan tetap membungkam mulutku tangannya menyuruh aku untuk berbalik membelakangi dia. Dia dorong tubuhku hingga aku hampir terjatuh hingga tanganku secara refleks meraih pipa dan kran di depanku. Posisi tubuhku mau tidak mau menjadi setengah nungging. Pada saat itu pula aku merasakan tangannya mengelusi bokong dan meremasi nonokku. Dimainkannya jarinya pada kelentitku dan dimasuk-masukannya ke lubang vaginaku. Dengan tangan lainnya yang terus membekat mulutku membuat aku nggak bisa berteriak kecuali berpikir dan merasakan apa yang terjadi. Akhirnya karena ketakutan dan kekagetan yang melandaku, aku merasa lebih baik mengalah dari pada terjadi hal-hal yang mungkin berakibat fatal padaku.
 Remasan jari-jari pada nonokku kurasakan mulai melanda birahiku dan semakin hebat akibatnya. Aku merasakan nonokku mulai membasah. Cairan birahiku mulai mengalir keluar di lubang vaginaku. Aku mengerang penuh kehausan. Dan saat jari-jarinya dia cabut dan angkat aku sangat tak sabar menunggu penggantinya. Dan saat sebuah tonjokkan bulatan panas mendesak bibir vaginaku aku tahu bahwa kontol lelaki itu telah siap ngentot nonokku. Aku langsung menggelinjang. Kini aku didorong oleh suatu keinginan yang kuat sekali untuk merasakan kontol orang lain yang bukan suamiku menembusi memekku. majalahsex.com Keinginan itu pasti nafsu birahiku yang telah menyergap aku yang membuat aku terbakar hingga melumpuhkan nalar sehatku.

- Refleks pada pantatku kini adalah menggoyang agar kontol itu lekas meruyak ke dalam vaginaku yang sudah demikian gatal menantinya. Aku merintih.
Aku dilanda prahara nikmatnya pemerkosaan padaku ini. Dan kini yang terjadi adalah dua insan yang berpacu untuk meraih orgasmenya dalam ruang toilet sempit diatas rel yang melaju antara Jakarta Surabaya. Kontol lelaki itu dengan sangat cepat memompa kemaluanku. Dan aku sendiri menjadi sepenuhnya menyambutnya. Pantatku terus bergerak maju mundur mengimbangi kecepatan pompanya. Dan sepertinya memang demikianlah yang harus terjadi. Persanggama-an buah pemerkosaan ini tidak berlangsung lebih dari 5 menit. Kami sama-sama menumpahkan cairan-cairan kami. Sperma panas lelaki itu menyemprot-nyemprot dan membanjiri liang vaginaku. Aku meraih orgasme dalam sensasi birahinya korban pemerkosaan. Aku sangat puas. Demikian besar kepuasan orgasme yang aku dapatkan dan rasakan melebihi lebih dari 5 tahun orgasmeku yang secara rutin aku dapatkan dari suamiku. Aku melenguh kelelahan.

- Aku masih setengah nungging dan lelah saat lelaki itu demikian saja menghilang ke balik pintu. Dia meninggalkan aku sendirian kembali. Kini pintu aku kunci. Dan aku mulai berkilas balik. Saat lelaki itu mengganjalkan tangannya di pintu, kemudian membekap mulutku, kemudian menyibak rok-ku dan memelorotkan celana dalamku, kemudian membalikkan badanku hingga setengah menungging, kemudian mengobok-obok memekku, kemudian menusukkan kontolnya pada vaginaku, kemudian memompakan kontolnya yang aku langsung sambut dengan pantatku yang maju mundur menjemputi pompaannya. Dan yang paling akhir adalah orgasmeku yang demikian dahsyat nikmatnya mengalahkan nikmat-nikmat orgasmeku dengan suami sepanjang lebih dari 5 tahun terakhir ini. Oohh.., kenapa ini terjadi padaku.
Saat aku keluar toilet aku dihinggapi rasa bimbang, adakah aku masih istri yang setia? Adakah aku masih berhak duduk di samping suamiku yang masih tidur pulas sejak kutinggalkan ke toilet tadi? Kulihat wajah suamiku yang begitu damai. Yang tak pernah tahu bahwa walaupun bukan mauku, aku merasa telah menghianatinya.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _

:: Peristiwa Kedua,
SOPIR BOSS

 Pesta ulang tahun istri boss telah usai. Para undangan sebagian menuju mobil mereka untuk pulang, sebagian lain lagi menunggu supir masing-masing berdiri di kanopi rumah boss. Dengan ditemani istri boss aku menunggu suamiku yang saat ini masih terlihat bicara serius dengan boss serta staff direksi yang lain. Beberapa saat kemudian kulihat suamiku bersama boss mendekat ke aku. Boss yang bicara padaku,

" Maaf Bu Dibyo, Pak Dibyo saya tahan karena ada yang perlu dibicarakan untuk pertemuan dengan pengusaha Jerman besok. Ibu biar diantar Tarjo supir saya pulang lebih dahulu. Nggak apa-apa ya Bu, maaf nih", demikian permintaan maaf boss Mas Dibyo yang nggak mungkin aku sanggah lagi sebagaimana kebiasaan di lingkungan kantor kami.

- Ada kebanggaan bahwa suamiku, Mas Dibyo, merupakan staff inti yang selalu dibutuhkan pada saat-saat kritis seperti ini, tetapi aku sudah terlampau banyak dikorbankan untuk hal-hal seperti ini.

- Kebetulan aku meraih 'door prize' saat istri boss mengundi nomer urut tamu malam ini. Lumayan aku dapat flat TV 21 inchi yang bisa aku pasang di kamar tidurku nanti. Mobil BMW 650i yang super mewah berhenti di latar kanopi begitu boss usai bicara padaku. Tarjo sang supir bergegas mengambil dooz besar TV-ku dan membukakan pintu kursi belakang untukku.

" Selamat malam, Bu. Wah rupanya Pak Dibyo bisa sampai malam hari ini, Bu. Soalnya saya dengar rombongan pengusaha Jerman itu minta bapak untuk membuat draft LOI (maksudnya, Letter of Intent) untuk besok pagi".

- Begitu Tarjo memberikan selamat malam padaku dan menyampaikan informasi mengenai tugas Mas Dibyo hasil dari nguping pembicaraan bossnya.
Sampai di rumah aku turun lebih dahulu untuk membuka pintu dan menyalakan lampu ruang depan. Tarjo mengangkat dooz TV ke dalam rumah. Saat itu terpikir alangkah baiknya kalau Tarjo bisa sekalian membantu membongkar TV-nya dan menaruh di kamar tidurku. Dengan senang hati dia melakukan permintaanku. Boss sudah nggak nunggu saya lagi kok Bu, jadi saya bisa bantu ibu sebentar, begitu jawabnya. Saat itu kuperhatikan matanya begitu berbinar setiap aku ngajak omong. Dia tidak hanya memperhatikan bibirku yang bicara tetapi juga gaun malamku yang menampakkan bahuku yang terbuka, belahan buah dadaku, pinggulku. Aku sudah terbiasa menghadapi pandangan mata lelaki macam itu, tetapi mestinya bukan kelasnya Tarjo. Aku merasakan bahwa sebagai lelaki Tarjo pasti juga tergerak birahinya melihat perempuan seperti aku, itu jelas dari cara matanya memandangku. Aku mafhum.

- Tarjo dengan cepat dan cekatan melaksanakan permintaanku. Nampaknya dia ingin benar-benar membuat aku senang. Dan sebagai terima kasihku kubuatkan minuman saat selesai memasang TV di kamar tidurku. Sementara dia minum aku masuk kamar untuk ganti baju.
 Aku sedang membuka blus setengah dadaku yang tanpa kancing melalui kepalaku ketika tiba-tiba aku mendengar langkah kaki Tarjo memasuki kamarku dan sama sekali tak kuduga ketika dia memelukku dengan kuat dan langsung menciumi ketiakku. Aku berteriak tertahan karena malu kalau sampai kedengaran tetangga, sementara mukaku masih tertutup oleh blusku sehingga aku tidak melihat apa-apa di sekelilingku. Dengan sigap tangan kuat Tarjo membekap mulutku dari balik blusku,

" Jangan teriak, Bu. Malu khan kalau kedengaran tetangga. Saya nggak tahan nih Bu. Kepingin ngentot ibu sejak berangkat dari rumah boss tadi. Sebentar saja, Bu".

Gaya bicara Tarjo yang demikian tenang sangat membuatku jengkel dan marah. Sepertinya dia biasa melakukan hal begini kepada orang lain. Dasar begundal gila kamu, Jo.
 Aku berontak dan jatuh ke ranjang tertindih tubuh Tarjo yang terus merangsek ketiak dan bagian tubuhku yang lain. Aku mulai ketakutan Tarjo akan memperkosa aku. Nggak mungkin dia berbuat begitu padaku yang istri atasan dia juga. Tetapi teriakkan dan berontakku rasanya sia-sia.  majalahsex.com Dia terlampau kuat buat aku. Dengan mudah Tarjo meringkus aku. Mulutku disumpal dengan sapu tanganku yang dia raih dari meja toiletku. Tanganku dia ikat kuat-kuat pakai tali rafiah bekas pengikat TV ke kisi-kisi ranjangku. Sementara kakiku ditahan dengan tubuhnya dengan kuat.

- Aku terus berusaha berontak dengan tubuhku yang masih bebas untuk menggeliat menolak muka Tarjo yang nyungsep ke dadaku yang hanya tinggal memakai BH. Kakiku juga masih berusaha melawan kendati tubuhnya sangat kuat menindihku. Aku mulai berpikir kalau aku bisa menendang selangkangannya pasti Tarjo akan kesakitan. Tetapi aku nggak mampu. Bahkan tangan kanan Tarjo yang telah menyingkap gaun malamku mulai menarik-narik celana dalamku. Aku mulai menangis putus asa. Bagaimanapun nafsu jahat Tarjo akan kesampaian juga.
 Dengan menangis ini Tarjo jadi tahu bahwa perlawananku tinggal separoh, selebihnya tinggal keputus asa-an dan penyerahan tubuhku yang siap untuk melampiaskan nafsu binatangnya. Hal ini membuat Tarjo menjadi lebih gila dan mulai melepasi ikat pinggang kemudian memerosotkan celana panjangnya hingga ke pahanya. Aku memang semakin putus asa saat kurasakan Tarjo berhasil menarik melepasi celana dalamku kemudian menguakkan selangkanganku dan menenggelamkan wajahnya ke kemaluanku. Dia merangsek menciumi dan menyedoti nonokku. Aku tak bisa membayangkan lagi bagaimana perasaanku waktu itu.  Kemaluanku yang berbulu tipis dengan bibir vaginanya yang sangat ranum dilumat-lumatnya yang terkadang sambil melepaskan gigitan-gigitan kecilnya.
Cukup puas menggarap kemaluanku kini wajah Tardjo merangkaki perutku. Dengan bibirnya yang terus menjilati dan menyedoti tangan-tangannya melepasi BH-ku dan membetot keluar payudaraku yang memang sangat menggunung dan pasti menimbulkan nafsu birahi Tardjo yang makin kesetanan ini. Kemudian dari jilatan dan sedotan di perutku bibirnya bergerak cepat beralih mengenyoti dengan sangat ganas buah dadaku yang sudah keluar dari BH yang sudah berantakkan ikatannya.

- Dan di bawah sana kurasakan benda keras yang aku pastikan adalah kontolnya mulai didorong-dorongkannya ke lubang vaginaku. Aku semakin benar-benar tidak melihat jalan keluar lagi. Aku dilanda kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Aku menjadi lumpuh dengan penuh sakit di hatiku. Aku terus menangis. Sopir gila ini benar-benar akan memperkosa aku. Edan. Gila. Benar-benar anjing kamu, Tarjo.
 Tetapi Tardjo ternyata sangat professional untuk merubah penolakanku menjadi penantianku. Dengan bertumpu pada lumatan, isepan dan gigitan pada payudara dan pentil-pentilku yang sangat intens, Tardjo mengembangkan variasi remasan dan rabaan pada bagian-bagian tubuhku yang paling sensitive.  Terkadang jarinya seakan mencakar kasar untuk kemudian berubah mengelus lembut. Aku dipermainkan oleh gelombang sentuhan erotisnya. Aku tergiring untuk memasuki wilayah peka birahi yang demikian dahsyat. Aku nggak habis pikir, terkadang aku dibuatnya menunggu, apa lagi dan yang mana yang akan dirambah rabaannya. Dan itu merupakan siksaan yang paling aku benci.  newiklanpoker.blogspot.com Menunggu Tardjo, menunggu rabaannya, sementara lidah dan bibirnya terus menggelitik payudara dan pentilku dengan disertai dengusan serta lenguhan nikmat yang sangat merangsang iba birahi siapapun yang mendengarnya. Rasanya dalam waktu yang singkat kini beralih aku yang terlanda kehausan. Birahiku seakan tercambuk untuk mendera nafsu libidoku. Ayoo, Tardjoo, cepatt.. yang mana lagi.., ayoo, kurang ajar benar sih, kamu..

- Aku ngap-ngapan mengejar nafasku karena perbuatan Tardjo ini. Kini situasinya jadi berbalik. Kini aku yang justru menginginkan Tardjo dalam arti sesungguhnya untuk memperkosa aku habis-habisan. Kini aku berubah menjadi hewan betina yang menunggu dilahap rakus jantannya.
Dan ketika akhirnya kurasakan ujung kontol Tarjo mendesaki gerbang vaginaku. Bibir vaginaku kurasakan menebal dan menjadi sangat peka terhadap sentuhan. Aku sangat berharap kontol Tardjo cepat menembusi nonokku. Aku goyangkan pantatku naik turun dan berputar cobek untuk menjemput dan menangkap batangan kontol Tardjo. Aku sudah demikian kegilaan menunggunya. Oohh.., Mas Dibyoo, maafkan aku, ini bukan salahku, mass.. Kenapa kamu nggak pulang mengantar aku dulu kemudian kembali dengan urusan pekerjaanmu, demikian aku menangisi nasibku. Dan Tarjo mulai dan terus mengocok-ocokkan kontolnya secara intensif ke liang kemaluanku.
 Dan saat akhirnya vaginaku menelan seluruh batangan kontol itu, wwuuhh.. Aku dilanda gelinjang nikmat yang sangat dahsyat. Kini aku mendesah dengan hebatnya. Dan lebih konyol lagi, kegatalan pada nonokku terus memaksa pantatku bergoyang naik turun untuk menjemput kontol Tarjo agar menembusi lebih dalam lagi, dan bergoyang seperti “ngebor”, memutar pantat ke kanan dan ke kiri agar memekku bisa melumat batang kontol untuk menggaruk dinding vaginaku yang nggak mampu aku tahan lagi rasa gatalnya. Dan inilah yang diharapkan Tarjo sebagai tanda telah mampu menundukkan aku. Oocchh, ampuni aku Mas Dibyoo..

- Kini Tarjo merasa tidak perlu terlampau ketat menahan meringkus aku. Bahkan dengan penuh keyakinan sumpal di mulutku dilepasnya. Tarjo tahu aku telah berada di wilayah kenikmatan birahiku dan tak akan mungkin berteriak-teriak yang membuat kehilangan kenikmatan itu. Kontolnya mulai dipompakan secara teratur dan cepat menembusi nonokku. Dan cairan birahiku tak lagi bisa menyembunyikan hadirnya nafsu birahiku itu.

" Bu, enhak sekali ya, Bu .., Bu enhaakk, yaa..", racau Tardjo sambil menahan birahinya yang sudah demikian tak terkendali.

- Tetapi ucapan Tarjo itu sama sekali tidak salah. Aku memang merasakan enak dan nikmatnya pemerkosaan ini. Bahkan kini aku benar-benar menggoyang-goyangkan pantatku karena kenikmatan yang menimpa diriku. Dan racauan mulutku mengalir menyahuti menyemangati racauan Tarjo,

" Teruzzss Mas Tarjo.., terusszz.., enhhaakk.., terusszzhh..".

- Semua menjadi serba cepat. Genjotan kontol Tarjo yang semakin kuat ngentot kemaluanku membuat susu-susuku tergoncang-goncang seperti terlanda gempa bumi. Aku merasa kehausan yang amat sangat. Aku minta Tarjo menciumi bibirku. Kami saling melumat dengan ganas yang disebabkan gelombang dahsyat yang menerpa birahi kami. Dan kini aku merasa seluruh urat dan otot-otot tubuhku meregang. Aku merasa ada desakkan kuat yang harus meledak keluar dari dalam tubuhku. Dan kemudian aku merasakan aliran stroom jutaan watt hadir mengawali muncratnya cairan birahiku dari dalam kemaluanku. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat saat orgasmeku datang. Mataku membeliak-beliak menahan dera nikmat. Aku gigit pundak Tarjo hingga terluka.
 Aku belum pernah mendapatkan pengalaman nikmat macam ini selama perkawinanku dengan Mas Dibyo. Aku menjadi buas dan kehilangan perasaan malu. Aku meracau dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang sangat seronok dan kotor yang seharusnya tidak keluar dari mulutku. Aku terdorong oleh nafsu birahiku yang menggelegak hebat mengucapkan nikmat luar biasa sambil merintih. majalahsex.com Dan berbareng dengan itu, Tarjo yang seperti orang gila semakin keras dan cepatnya memompa nonokku hingga kudengar suara bijih pelirnya yang memukul-mukul bawah nonokku. Tarjo menyusul menyemprotkan air maninya yang sangat panas ke dalam memekku. Aku tak bisa bayangkan lagi betapa kuyupnya lubang kemaluanku. Air mani dan cairan birahiku membusa meleleh keluar menyertai keluar masuknya pompaan kontol Tarjo. Dan akhirnya semua berhenti.

- Sepertinya Tarjo lunglai menindih tubuhku dengan keringatnya yang mengalir deras dari tubuhnya, tetapi wajahnya yang juga basah yang nyungsep di belahan dadaku bibirnya masih pelan mengenyoti payudaraku dan kontolnya yang terendam basah masih kurasakan tegang kaku dalam rongga kemaluanku. Walaupun terus terang aku mendapatkan kenikmatan seksual yang hebat dari paksaan Tardjo tapi demi gengsiku kutolak tubuh Tardjo dari tubuhku, aku ingin dia cepat menyingkir dari aku. Tetapi apa kata dia,

" Bu Dibyo, kemaluan ibu seperti kemaluan perawan, sangat sempit dan sangat nikmat. Kontolku belum puas, Bu. Aku mau lagi. Aku mau ibu melayani aku lebih baik lagi. Aku pengin ngentot ibu lagi. Aku mau ibu menjilati kontolku sebelum kumasukkan ke nonok ibu lagi".

- Edan kau Tardjoo.. Omonganmu sama sekali menghinaku. Kamu anggap apa aku ini? Memangnya aku tempat pelampiasan nafsu binatangmu? Memangnya aku budakmu? Pergi kau Tardjoo.. Pergi..!!, demikian aku berteriak padanya.
 Terus terang aku berteriak bukan benar-benar menyuarakan hatiku. Aku hanya berteriak demi gengsiku. Aku akan menangis penuh penyesalan seandainya Tardjo lantas dengan kecut meninggalkan aku. Terus terang kata-kata jorok brutal Tardjo tadi tiba-tiba menjadi sensasi birahi yang menggelegak menghantam sanubari libidoku. Aku merasakan birahi nikmat mendengar kata kontol belum puas, ngentot nonokku, menjilati kontolnya, ah, merinding dan bergetar merasakan betapa kata-kata itu menjadi demikian merangsang nafsu birahiku. Aku ingin mendengarnya lagi, aku ingin Tardjo mengucapkannya lagi untukku. Aku ingin ada kata-kata yang lebih kotor lagi. Aku ingin Tardjo mengucapkan keinginan kotornya padaku lagi.
 Tetapi ternyata dia tidak bicara lagi. Dia bertindak. Dia mencabut dari memekku kontolnya yang masih kuyup oleh lendir spermanya yang tercampur dengan cairan birahiku. Dia merangkaki tubuhku. Dia melangkahi payudaraku untuk mendekatkan kontolnya ke wajahku. Untuk menjejalkan ke mulutku. Sungguh mati aku sangat jijik menghadapi ini. Mulutku belum pernah mencium apalagi mengulum kontol. Aku sangat jijik karena memang belum pernah aku melakukannya walaupun suamiku sering minta agar aku melakukannya. Walaupun kedua tanganku masih tetap terikat, aku mati-matian menggeliat-geliat untuk berusaha menolaknya. Aku pandang hanya binatang saja yang melakukan cara macam ini. Tetapi Tardjo yang menjadi demikian terbakar nafsunya melihat geliatan tubuhku tidak memintaku. Dia memaksa aku. Dia telah berhasil memperkosa kemaluanku, dan kini dia akan memaksa mulutku untuk menerima kontolnya.

- Dan Tardjo memiliki banyak cara. Dia memencet hidungku hingga aku kesulitan mengambil nafas sampai mulutku terpaksa terbuka untuk bernafas. Pada saat itu kontolnya langsung disodokkan dan dijejalkan ke mulutku. Reaksi pertamaku adalah gelagapan dan rasa muak yang tak terhingga. Aku mau muntah. Tetapi keinginan itu seketika lenyap ketika Tardjo dengan tiba-tiba dan sangat kurang ajar meraih kepalaku, menjambak rambutku dan kemudian berkali-kali menampari pipiku. Kali ini aku sungguh-sunguh merasa direndahkan harga diriku. Seorang sopir macam Tardjo beraninya menampar istri bossnya.
 Tetapi Tardjo sudah kerasukan setan. Dan yang hadir pada diriku kini bukan lagi gengsi tetapi ketakutan yang amat sangat pada orang yang kerasukan setan. Aku jadi terpaksa membiarkan kontolnya yang disodok-sodokkan ke mulutku. Aku pasif, tidak menggerakkan mulutku sama sekali, tetapi Tardjo kembali menamparku,

" Ayo, Bu, isep-isep kontol enak, Bu, kulum, ayo, enak ini bu..", antara ketakutan dan merinding birahi yang sangat, aku diserang gemetar hebat.

- Dan diluar kesadaranku akhirnya aku mengulum kontolnya. Aku menggerakkan bibirku. Aku menjilatinya. Rasa asin yang menyergap lidahku membuat aku terkaget. Tetapi Tardjo sama sekali tak memberikan aku ruang untuk menolak. Kontolnya sedikit demi sedikt dijebloskan ke mulutku hingga menyentuh tenggorokanku. Kemudian ditariknya sedikit untuk kembali dijebloskannya lagi, demikian di ulang-ulanginya hingga aku jadi ber-adaptasi. Aroma sekitar selangkangannya yang semula sangat membuat aku mual kini tak terasa lagi. Rasa jijikku menyurut.
 Paksaan yang tak bisa kutolak menggiring aku untuk kompromi. Aku menerima dengan setengah perasaanku, sementara aku mencoba meraba dimana kenikmatannya. Sampai-sampai orang-orang suka membicarakan hal macam begini, bagaimana rasa nikmat melakukan oral seksual dengan mengkulum dan mejilati kontol lelakinya. Dan saat tangan Tardjo juga meremasi buah dadaku dan memainkan pentilku aku tak bisa mengelak, nikmat birahi melumati kontol lelaki segera merambati aku pelan, pelan, pelan dan kemudian menerkam diriku dengan hebatnya. Situasi serasa berbalik 180 derajat, akulah kini yang mengerang dan mendesah sambil dengan penuh penghayatan dan nafsu birahi aku memperdalam dan memompa kontolnya dengan seluruh haribaan mulutku. Tardjo tahu aku sudah bisa dia taklukkan. Dan aku merasakan gelinjang nikmat bagaimana sebagai perempuan terhormat ditaklukkan oleh kontol supirnya.

- Aku merasakan sensasi seksual sebagai budak nafsu supir boss suamiku. Kini aku menjadi pihak yang banyak menuntut. Aku ingin Tardjo menumpahkan seluruh nafsunya ke tubuhku. Setiap tindakan kasarnya menambah nikmat birahiku. Keinginan untuk menyerah sebagai budak taklukannya merupakan ungkapan yang sangat sensasional untuk nafsu birahiku. Aku ingin direndahkan. Aku ingin dihina. Aku ingin dijajah oleh Tardjo. Aku bahkan ingin disakitinya. Untuk itu aku berontak habis-habisan hingga kontolnya lepas dari mulutku. Aku tendang sebisaku apa yang aku bisa tendang. Aku cakari tubuhnya. Aku maki dia dengan kasar,

" Anjing kamu Tardjo, babi, setan!", dan rupanya perlawananku langsung memancing kemarahannya. Aku ditamparinya hingga bibirku pecah dan berdarah. Dia memaki aku,
" Dasar pelacur kamu, cabo murahan, pemakan tai!", katanya dengan kasar sambil meraih mukaku dengan kedua tangannya.

- Dipegangnya mulutku pada rahang bawah dan atasnya. Dipaksakannya aku membuka mulutnya. Kemudian di ludahi mulutku. Dia ludahi lagi. Dia ludahi terus mulutku. Dia gumpalkan air liurnya ke bibirnya kemudian diludahkannya kemulutku. Dan setiap kali dia membuang ludahnya ke mulutku, setiap kali pula dia pencet hidungku hingga aku gelagapan dan terpaksa aku menelan ludahnya. Tiba-tiba merinding dingin dan gemetar seluruh tubuhku, seakan badai kutub utara menyergap aku. Seluruh saraf-saraf dan ototku mengejang. Aku merasa kegatalan birahi yang sangat pada kemaluanku dan membuat rasa ingin kencingku meledak-ledak. Aku tahu perlakuan kasar Tardjo telah memancing nafsu birahiku dengan dahsyat. Dan kini aku akan kedatangan nikmat orgasme yang tak kuduga-duga akan secepat ini sebelumnya.
 Aku sudah tenggelam dalam badai birahi yang tak lagi terkendali. Ludah Tardjo telah mendongkrak libidoku dan mendorongku untuk kembali mencengkeram dan memepet-pepetkan selangkanganku ke tubuh Tardjo sebagai ungkapan kegatalan nonokku sambil aku merintih dengan histeris dan setengah teriak,

" Tardjo, masukin kontolmu, Djo, entot aku lagi, Djo, tolong, entot aku lagi", tentu saja dia heran akan sikapku yang berbalik 180 derajat.

- Dan langsung Tardjo menyambut gembira histerisku itu. Tetapi dia tidak langsung menjawab permintaanku. Dia melepaskan terlebih dahulu tanganku dari ikatannya. Dia nampak begitu yakin bahwa aku telah benar-benar dia kalahkan. Dia ingin merasakan bagaimana aku akan sepenuhnya mengekspresikan kenikmatan yang dia berikan. Dia ingin aku menggunakan tangan-tanganku untuk memelukinya dikarenakan birahi yang membakar diriku.
 Dengan penuh keyakinan dia kangkangkan selangkanganku. Dia arahkan kontolnya ke nonokku yang dengan serta-merta pantatku naik tinggi-tinggi menjemputnya. Kontol itu langsung.. bleezzhh.. menghunjam dan ditelan memekku bulat-bulat. Dengan tanganku yang terbabas aku memeluki tubuh keringat Tardjo dengan sepenuh puas hatiku. Dengan cepat pantatku goyang memutar dan memompa naik turun.

- Saat orgasmeku benar-benar berada di depan gerbang puncak nikmat, aku berbalik dengan cepat ganti menindih tubuh Tardjo. Doronganku adalah menghunjamkan kontolnya untuk lebih dalam meruyak menusukki nonokku. Dan saat itulah, cakar-cakarku melukai bahu Tardjo dengan disertai teriakkan seperti anjing betina yang melonglong keenakkan dientot jantannya, orgasmeku akhirnya muncrat, tumpah ruah membuat nonokku menjadi banjir dan kuyup.  Dengan cepat kuterkam mulutnya dengan mulutku, kuhisap-isap lidah dan ludahnya untuk menghapus dahaga birahiku dan menuntaskan puncratan cairan birahiku. Kuhisap terus, kuhisap terus, kuhisap terus hingga akhirnya aku tergeletak lemas ke kasur pengantinku. Sepintas aku lihat Tarjo bangkit dan meloco kontolnya. Dia mengeluarkan spermanya beberapa saat kemudian disertai dengan teriakkan lepas birahinya dengan sekeras-kerasnya. Dia puncratkan sperma hangatnya ke tubuhku, ke dadaku, ke mukaku, ke rambutku. Sesudah ber-galon-galon spermanya tersedot keluar, Tardjo jatuh lemas ke kasur di sebelahku. Aku terlena.

- Entah berapa lama aku tertidur kecapaian hingga terbangun saat kulihat Tardjo bergerak bangun. Mataku yang kini selalu terpaku pada kontolnya melihat betapa kontol gede itu belum nampak surut juga dari tegang kakunya. Kontol itu masih nampak ber-ayun-ayun setiap kali pemiliknya bergerak ke-sana-kesini. Kulihat dia bergerak turun.
 Dia balikkan tubuhku kemudian dia tarik kakiku hingga tungkai kakiku terjuntai ke lantai. Dia rabai lubang pantatku. Kemudian aku rasakan dia membenamkan wajahnya di sana untuk menciumi dan menjilati lubang analku.  Rasa gatal yang sangat dengan cepat kembali menggelitik nafsu birahiku.   Suamiku tak pernah menjilati pantatku, apalagi lubangnya sebagaimana yang dilakukan Tardjo kini. Aku tidak berfikir lagi untuk menolaknya, rasanya Tardjo sudah menaklukkan aku secara total, aku pasrah apa maunya saja. Saat dia menjilati dan menusukkan lidahnya ke lubang anusku aku langsung menggelinjang. Tanganku bergerak kebelakang meraih kepalanya, aku ingin Tardjo lebih tenggelam lagi menjilat pantatku. Tetapi Tardjo bergerak bangkit sambil beberapa kali meludahi lubang anusku. Dia tusukkan jar-jarinya ke lubang itu. Aku kesakitan dan mengaduh. Dia tidak ambil pusing.

- Dan ketika kontolnya dia asongkan ke analku, aku baru tahu, rupanya Tardjo ingin melakukan sodomi padaku. Aku rasanya tak mampu berkutik. Aku menjadi tawanan yang sudah lunglai kehabisan tenaga untuk melawan musuhku. Dan saat rasa sakit yang langsung menerpa pantaku karena kontol Tardjo memaksakan untuk menembusinya, aku tak menahan diri lagi untuk berteriak sekeras-kerasnya. newiklanpoker.blogspot.com Aku benar-benar tak tahan menerima tusukkan kontolnya di pantatku. Aku belum pernah merasakan sodomi, bahkan berpikir saja tak pernah.
 Rasa panas dan pedih pada bibir dan dinding anusku tak tertahankan lagi. Aku berusaha berontak menghindar, tetapi justru membuat aku semakin terkunci oleh jepitan tubuhnya yang sambil terus menggerakkan pantatnya merangsek dan mendorong serta menarik kontolnya memompa anusku. Kini aku benar-benar diperlakukan seperti anjing betina, Dengan setengah tengkurap di tepian ranjang dan kaki terjuntai ke tanah, aku dipaksa menerima peralakuan sodomi pada pantatku. Aku terguncang-guncang oleh sodokkan ritmisnya. Anusku terasa sangat panas seperti kecabean dan pedihnya luar biasa. Kembali aku menangis. Aku melolong karena rasa sakit yang amat sangat.
 Tardjo menikmati banget apa yang dia bisa raih dari tubuhku. Dengan terus menyodomi analku dia memelukku dari belakang, menciumi kudukku habis-habisan sambil tangannya merangkul tubuhku dan meremasi payudaraku. Kudengar nafasnya yang mengendus dengan buas menyertai nafsu birahinya yang benar-benar telah menjadi binatang liar yang tak terkendali lagi. Cerita Bokep
Saat akhirnya kontol itu terus mempercepat pompaannya, aku tahu bahwa Tradjo telah mendekati puncak birahinya. Untuk yang kesekian kali dia akan menyemprotkan air maninya ke dalam tubuhku. Di antara panas dan pedih yang merobek-robek lubang pantatku aku terguncang-guncang di atas ranjang pengantinku sambil meraung kesakitan. Aku merasakan betapa sodomi ini begitu menyiksaku. Kepalaku langsung pening, mataku terasa menggelap ber-kunang-kunang. Kuremasi pinggiran kasurku dalam upaya menahan kepedihan itu. Yang aku pikirkan hanyalah kapan siksaan ini berhenti dan selesai.

- Aku nyaris kehilangan kesadaranku saat Tardjo kembali menyemprotkan lahar panasnya di lubang analku. Lendirnya melicinkan bibir dan dindingnya hingga rasa sakit ini sedikit berkurang. Tardjo kembali berteriak histeris, melolong bak anjing jantan yang telah memuasi betinanya. Kemudian kembali dia lemas dan rebah penuh keringat menindihi punggungku. Aku lemas sekali. Aku berharap Tardjo sudah lemas dan puas pula hingga tidak lagi memaksa aku untuk menampung kebrutalannya lagi. Aku harap selekasnya Tardjo meninggalkan aku. Aku sudah tak mampu lagi melayaninya. Percuma. Aku nggak akan mampu lagi menikmatinya. Dan harapanku benar terpenuhi.
 Tetapi caranya sungguh menunjukkan kekurang-ajarannya. Tanpa memperhatikan keadaanku, tanpa ada omongan “ba bi Bu” enak saja Tarjo turun dari ranjangku. Dengan tanpa mencuci apa-apa pada tubuhnya, ditariknya kembali celana panjangnya yang tetap nyangkut di pahanya dan menutup resluitingnya serta mengikat kembali ikat pinggangnya. Dan kemudian dengan se-enaknya dia ngeloyor pergi,

" Terima kasih, Bu. Maafin saya, ya, Bu", demikian kering kata-katanya, seolah apa yang telah terjadi bukan hal yang luar biasa. Kemudian dengan sama sekali tidak menunggu reaksiku dengan cepat dia meninggalkan aku yang masih tergolek telanjang di tempat tidurku.

- Sesudah lebih dari 1 jam dia melampiaskan nafsu hewaniahnya untuk mendapatkan kepuasan birahinya dengan cara memaksa menggauli aku, dengan menembusi nonokku, mulutku dan yang terakhir lubang duburku tanpa khawatir akan suamiku yang bisa kapan saja muncul pulang tiba-tiba, kini sepertinya pahlawan yang meninggalkan musuhnya yang sedang sekarat dia pergi begitu saja tanpa tanda-tanda dan jejak yang bisa dijadikan alibi kecuali hatiku yang terluka dan bimbang.
 Aku bimbang, benarkah Tardjo telah memperkosa aku? Dengan kenikmatan yang begitu luar biasa yang kudapatkan dari pemerkosaku aku menerima perbuatan Tardjo sebagai sesuatu yang tak akan pernah kusesali seumur hidupku. Masih pantaskah aku disebut istri yang setia bagi Mas Dibyo? Ah, lelaki dimana-mana sama saja, membingungkan. Dasar bajingan kamu, Jo.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

:: Peristiwa Ketiga,
ANAK KOST

 Terlampau sering kita dengar cerita anak kost yang memperkosa ibu kostnya. Tetapi yang aku alami di bawah ini merupakan peristiwa pemerkosaan yang aku anggap kebangetan.
 Sesudah anak-anakku pada menikah, rumahku menjadi longgar dan terasa sepi. Suamiku mengusulkan untuk menerima kost-kost-an untuk anak sekolah atau mahasiwa. Maksudnya agar suasana ramai seperti ketika anak-anakku kumpul bisa kembali dinikmati. Ide itu timbul sehubungan adanya beberapa kali permintaan dari beberapa pelajar dan mahasiswa yang bertandang ke rumah. Tetapi kini yang terjadi justru bencana yang mengancam ketenangan dan kenyamanan dalam rumah tanggaku.
 Ronny, salah seorang anak kostku suatu pagi tidak keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama anak-anak yang lain. Kuketuk pintunya untuk melihat ada apa dengan Ronny ini. Kulihat dia masih meringkuk di tempat tidurnya. Saat ku pegang dahinya aku tahu dia kena demam. Kemudian kubawakan minuman panas, sepotong roti dan obat anti demam. Kusuruh minum obat itu.

- Setelah rumah kembali sepi karena anak-anak pada berangkat sekolah dan kuliah, aku kembali menengok dia. Nampaknya obat demamnya sudah berproses. Panas tubuh Ronny sudah agak turun. Tetapi Ronny bilang sakitnya belum akan sembuh sebelum tubuhnya dikerok sebagaimana kebiasaannya kalau sakit di rumahnya. Aku bilang, nantilah kalau bapak sudah jalan mengajar ke sekolah, aku kerokin kamu. Suamiku walaupun sudah pensiun tetapi masih banyak kegiatan selaku pengajar honorer di beberapa sekolah.
 Ronny baru 3 bulan ikut kost di rumah. Dia anak dari Wonosobo. Ini merupakan tahun semester pertama dia di universitas swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Sebagai anak lelaki yang umurnya yang baru 20 tahun Ronny nampaknya dia sangat dimanjakan di rumahnya. Kadang-kadang disinipun kalau dia pengin sesuatu, masakan misalnya, aku harus turuti, kalau nggak dia akan ngomel seharian. Dia bilang pelitlah, malaslah, judeslah dan sebagainya. Aku sabar saja. Aku jadi ingat ada anakku yang manja, kalau minta sesuatu harus kami bisa penuhi.

- Kembali Ronny memanggil-manggil aku, sementara suamiku belum juga jalan menunggu telpon dari sekolahan tempat kerjanya untuk informasi mengenai jam berapa dia harus hadir mengajar hari ini. Kudatangi Ronny yang ngotot minta dikerok sekarang juga. Aku kasihan, mungkin badannya benar-benar berasa tidak enak. Aku mengambil minyak goreng dan koin uang untuk kerokan dan bilang sama suamiku yang sedang baca koran persis di sebelah dinding kamar Ronny. Saat aku masuk ke kamar, Ronny sudah tengkurap setengah telanjang hanya bercelana dalam. Ah, aku yang sudah usia 47 tahun ini tidak berpikir macam-macam. Aku duduk di tepian ranjang, mulai mengerok punggung Ronny.
Kuperhatikan tubuh Ronny sungguh sehat. Pasti makanannya sangat terjaga sejak kecilnya. Posturnya yang cukup jangkung, aku taksir mendekati 180 cm nampak Ronny sangat tampan. Dan itu dibuktikan seringnya dia didatangi atau ditelpon temen-ceweknya yang tak terhitung jumlahnya. Kulihat kerokkan ditubuhnya menunjukkan garis-garis merah yang kuat sebagai pertanda dia masuk angin beneran.

- Tiba-tiba tangan kirinya dia taruh ke pahaku. Aku pikir dia rindu mamanya. Tetapi saat aku tidak menunjukkan reaksi tangan Ronny mulai mengelusi pahaku kemudian menaikkan elusannya ke perutku kemudian ke dadaku. Aku tepis kuat-kuat. Aku bisikkan agar jangan tidak sopan padaku. Dia langsung berbalik telentang. Dia tunjukkan celana dalamnya yang telah terdorong mencuat karena kontolnya yang ngaceng berat sambil telunjuknya menunjuk bibirnya agar aku diam. Kemudian dia perosotkan celananya hingga kontolnya yang cukup gede dan ujung kepalanya yang merah berkilatan itu nampak tegak kaku mencuat dari rimbunan jembutnya yang masih halus tipis. Aku kaget banget dengan ulah Ronny ini. Yang aku takutkan kalau-kalau suamiku mendengar, masuk ke kamar dan melihat apa yang terjadi di kamar sempit ini. Bisa-bisa aku dianggap serong sementara suamiku masih berada di rumah. Aku berontak untuk berdiri dan meninggalkan kamar. Tetapi Ronny lebih sigap dan kuat. Direnggutnya rambutku dengan kasar hingga aku nyaris terjatuh. Kemudian dengan paksa mukaku ditundukkan ke arah selangkangannya. Dia arahkan kontolnya ke mulutku. Dia maksudkan agar aku mengulumnya. Kurang ajar dan kebangetan banget, nih anak. Tahu bahwa ada suamiku di sebelah dinding kamarnya dia berani mencoba melakukan macam ini padaku. Dia memperkosa aku, memperkosa mulutku.

- Aku berontak keras tetapi dengan sepi. Aku tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Dan Ronny nampaknya sangat tahu ketakutanku itu. Tangannya semakin kuat-kuat menekan kepalaku dan menempelkan bibirku ke ujung kontolnya. Aku tak kuat melawan Ronny. Kontol itu terus dia tekan-tekankan ke bibirku hingga aku merasa kesakitan karena beradu dengan gigiku. Dan persis saat aku sedikit menyeringai membuka mulut kontol Ronny berhasil masuk ke rongga mulutku. Tekanan tangannya yang sangat kuat tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepadaku untuk bergerak-gerak. Tanganku yang bertumpu menekan ke pinggiran ranjangpun sia-sia. Ronny membiarkan sesaat posisi statis itu dengan diam tetapi tekanan kuat tangannya tidak mengendor. Aku jadi sempat berpikir, mau apa aku. Dan jawaban dalam hatiku adalah, biarlah aku mengulumnya walaupun hal itu belum pernah aku lakukan pada suamiku sendiri selama ini. Pertama karena aku ingin hal ini cepat selesai sebelum suamiku menaruh kecurigaan. Kedua terbersit juga dalam hatiku, apa salahnya kalau dalam keadaan terpaksa ini aku coba saja apa yang pernah aku saksikan dalam VCD porno yang pernah aku tonton sebelumnya. Aku mencoba menjadi lebih menerima kenyataan yang tak bisa kuhindari ini. Aku mulai melumat kontol Ronny. Lidahku menari. Aroma selangkangan Ronny mulai merasuk ke hidungku tanpa aku bisa menghindarinya. Sekarang yang kupikirkan hanyalah pemaksaan Ronny ini cepat selesai.

- Begitu aku mulai mengulum, tekanan tangan Ronny mengendor. Bahkan dia mulai mengelus-elus rambutku dengan penuh penuh kenikmatan. Dan entah dorongan dari mana, mungkin pengaruh VCD itu, aku sendiri pelan-pelan dilanda rasa nikmat birahi. Aku merasakan ada sensasi nafsu yang mendorong aku untuk mencoba menikmati bagaimana bersentuhan secara birahi dengan lelaki lain kecuali suamiku, bahkan melakukan sesuatu yang belum pernah aku aku lakukan, aku tengah mengulum, mengisep-isep dan menjilati kontolnya itu. Dan saat Rony tahu aku nampak mulai menikmati paksaannya tangannya mulai kelayaban ke bokongku, dia singkapkan dasterku, dielus-elusnya pantatku bahkan juga lubang duburku. Ditusuk-tusukkannya jarinya ke lubangku itu. Aku agak merasa aneh. Terus terang hanya di VCD-lah aku lihat ada orang yang begitu menyukai lubang tai ini. Apakah Ronny juga termasuk yang suka?
Diludahinya jarinya untuk kemudian dia coba lagi menusuk lubang pantatku.  Aku menyeringai kesakitan, perih banget rasanya, tetapi mana berani aku teriak sementara suamiku berada tepat di belakang dinding kamar ini sedang membaca koran. Yang aku coba adalah menepis tangan Ronny sambil menyeringai sepi padanya yang menunjukkan aku kesakitan. Tapi Ronny tidak lantas berhenti, dia colek minyak goreng bekas kerokannya, jari-jarinya dilumuri minyak goreng itu kemudian kembali disodok-sodokkannya ke lubang pantatku.
 Dan aku sendiri jadi heran, walaupun terasa pedih dan sakit aku mulai merasakan kenikmatannya. Aku heran juga kenapa lubang pantat juga merasakan nikmat birahi macam lubang kemaluan. Aku heran banget. Bahkan aku menyambut jari-jarinya itu dengan memaju-mundurkan tubuhku menjemputi jari-jari Ronny menusuki pantatku itu. Aku mengerang tertahan. Aku menikmati banget nafsu birahiku ditengah rasa pedih dan panas yang hampir nggak tertahankan. Aku jadi terbakar dilanda birahi yang luar biasa.

- Terus terang, sudah lebih dari 2 tahun terakhir ini suamiku sudah jarang menggauli aku. Dan aku sendiri sebanarnya juga tidak lagi menuntut terlampau banyak dari dia. Kami merasakan usia kami sudah termasuk tua. Dan rasanya tidak lagi pantas terlampau memikirkan terus-menerus kebutuhan seksual. Tapi kini, ternyata seorang anak kostku si Ronny ini telah membangunkan macan tidurku. Rasanya aku kembali menjadi perempuan yang demikian kegatalan. Aku menggelinjang hebat saat ini, saat mulutku dipaksa terjejali oleh kontolnya dan lubang pantatku dientot oleh jari-jarinya.
 Tangan kiri Ronny di kepalaku semakin nampak tidak sabar. Dia menggenggam rambutku dan dinaik-turunkan kepalaku agar aku mengkulum dan memompa lebih cepat. Rasanya Ronny ingin lekas memuncratkan spermanya. Aku turuti kemauannya dari pada aku jadi kesakitan nanti. Tangan kananku mengelusi batangnya dan mulutku mempercepat lumatan dan pompaan ke kontol Ronny hingga akhirnya tanganku merasakan ada kedutan besar pada otot sebelah bawah batang kontolnya disusul oleh tumpahnya cairan hangat panas tumpah menyemprot-nyemprot rongga mulutku. Air mani Ronny muncrat banyak sekali, sepertinya bergalon-galon. Dan pada saat yang bersamaan sementara tangan kanannya terus menusuki lubang pantatku, tangan kiri Ronny kembali menekan kepalaku lebih dalam agar mulutku menangkap seluruh cairan spermanya yang tumpah itu. Aku nyaris tersedak. Dan untuk menghindarkannya agar tidak berkepanjangan buru-buru sebagian cairannya kutelan.

- Akhirnya tangan Ronny melepaskan cengkeramannya ke rambutku dan aku sendiri jadinya terduduk di lantai samping ranjang itu. Tak ada suara gaduh sedikitpun selama 15 menit Ronny memperkosa mulutku. Kami sama-sama menjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan suamiku yang sedang asyik membaca koran pagi itu.
 Ketika akhirnya aku bangkit berdiri, Ronny membisikkan terima kasih ketelingaku. Aku tidak menjawab. Aku tetap menunjukkan kekecewaanku atas perbuatannya yang memaksa mulutku ngisep kontolnya. Ketika aku mau keluar pintu aku memperdengarkan suaraku agar didengar suamiku,
“Udah Ron, kamu mesti istirahat. Tuh, badanmu merah semua oleh kerokan ibu. Pakai selimutnya. Kalau mau mandi nanti aku siapkan air panas”.
Ketika akhirnya aku keluar kamar kulihat suamiku sedang asyik mengisi teka-teki silang (TTS). Dengan kacamata minusnya dia mendekatkan matanya ke tulisan kecil-kecil koran di tangannya. Kemudian dengan berlandaskan pada lantai meja dia menulis jawaban TTS pada kotak-kotak yang tersedia. Dia nggak memperhatikan bagaimana aku berjalan dengan sedikit tertatih karena pedih di pantatku. Dia juga nggak menatap wajahku, bagaimana masih nampak serpihan kental hampir mongering sperma Ronny membelepot di sana-sini di sekitar bibirku.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

:: Peristiwa Keempat,
DI BAWAH SELIMUT KERETA MALAM ARGO LAWU

- Ini memang bukan masalah sepele, bukan sekedar masalah tangan, bukan sekedar soal keusilan seseorang. Aku merasa ini sudah menyentuh masalah prinsip sebuah kesetiaan. Kesetiaan seorang istri yang telah 20 tahun lebih mampu menahan segala terpaan goda nafsu birahinya.
 Setiap 2 atau 3 bulan sekali aku bersama suamiku, Mas Rudy, pergi ke Solo menengok anakku yang kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS). Tetapi keberangkatanku sekarang ini terpaksa aku lakukan sendiri karena Mas Rudy kebetulan ada urusan pekerjaannya yang tidak bisa ditinggalkan. Dia berjanji akan menyusul dan menjemput aku saat kepulangannya nanti. Mas Rudy hanya bisa mengantarkan sampai aku duduk nyaman di kursiku di kereta api Argo Lawu yang akan meninggalkan stasiun Gambir menuju Solo jam 7.30 malam. Kalau tidak ada kelambatan kereta Argo Lawu ini akan memasuki stasiun Balapan Solo sekitar jam 5 pagi. Anakku Suryo sudah akan menunggunya di sana.
 Aku dapat tempat duduk dengan nomor 14 C di larik sebelah kanan gerbong. Kursi di sampingku yang berada ditepi jendela nampaknya sudah ada yang menempati, orangnya tidak kelihatan tetapi dari barang bawaannya dan jaket yang ditaruh dikursinya aku perkirakan dia adalah orang laki-laki. Beberapa detik sebelum keberangkatan Mas Rudy turun dengan sebelumnya mencium pipiku sebagaimana kebiasaan kami apabila ada anggota keluarga datang atau pergi melakukan perjalanan.

- Sesaat kereta bergerak meninggalkan Gambir seorang pria muda pemilik kursi di sampingku baru muncul. Dengan penuh santun dan hormat dia mengucapkan selamat malam padaku dan bahkan menawari aku apabila aku menghendaki duduk di kursinya yang disebelah jendela. Aku ucapkan terima kasih, aku tidak ingin pindah dari kursiku. Pertimbanganku karena aku ini punya kebiasaan beser. Bisa dipastikan aku akan berbelas-kali mondar-mandir ke toilet untuk kencing. Dan itu akan membuat aku sungkan apabila setiap kali aku harus ngomong sama dia untuk ke toilet.
 Pria ini berinisiatip untuk banyak ngomong dan mengajak aku berbicara. Dari pembicaraannya kelihatan bahwa dia adalah seorang terpelajar. Dia ke Solo dalam rangka tugas dari perusahaannya, dia akan tinggal selama 1 minggu di kota itu. Selama pembicaraan sepenuhnya dia menujukkan sikap hormat dan santunnya padaku. Aku juga menaruh respek padanya karena sikapnya itu. Dia pinjamkan majalah dan koran bacaannya padaku, dia juga tawarkan makanan atau minuman saat pelayan restoran melewati bangku kami. Kecuali koran dan majalahnya yang lain aku menolak dengan halus. Aku terbiasa hanya minum air mineral saat bepergian begini. Dan untuk makan malam aku rencanakan nanti sekitar jam 10 malam baru aku mau pesan ke restoran. Aku sudah membayangkan steak Argo Lawu yang enak itu untuk makan malamku.

- Sesungguhnya aku nggak pernah membanding-bandingkan suamiku dengan lelaki lain, tetapi nggak tahu kenapa kali ini tanpa bisa kuhindarkan aku melakukan itu, mungkin karena waktu yang waktu panjang perjalanan yang membuat aku sempat berpikir macam-macam. Aku perhatikan pria di sampingku ini tampan banget. Wajahnya mengingatkan aku pada bintang film Onky Alexander yang main di film Catatan si Boy itu. Bahkan terus terang sebagai penonton film dan sinetron aku termasuk pengagum tampang Onky itu. Gayanya dalam film yang acuh, santun dan jantan sering aku tempatkan dalam khayalan isengku saat membayangkan macam bagaimana pria idola itu. Walaupun semua itu sama sekali tidak mempengaruhi sikap seriusku sebagai istri yang setia tanpa reserve yang telah lebih dari 20 tahun mendampingi Mas Rudy suamiku. Tetapi kali ini sepertinya pikiranku agak nggak lempang, kenapa?
 Dilain pihak pria ini, yang aku perkirakan usianya paling sekitar 30 tahunan atau 8 tahun lebih muda dari aku, memperkenalkan namanya Rendy (ah, kenapa sama-sama menggunakan huruf 'R' di depan, 'd' di tengah dan 'y' dibelakang sebagaimana nama Rudy suamiku). Kalau ngomong dia menatapku sedemikian rupa hingga aku sering merasa kikuk. Bahkan beberapa kali dia demikian mendekatkan wajahnya ke wajahku saat menyampaikan sesuatu, seakan untuk mengimbangi suara gemuruh kereta Argo Lawu yang lari kencang ini.  Tetapi aku lebih mengartikan bahwa cara demikian itu sebagai tanda bahwa sebagai seorang pria dia tertarik padaku yang wanita. Dia ingin dekat padaku dan aku dekat padanya. Mau akrab, gitu lah.

- Sesungguhnya aku juga nggak begitu heran dengan caranya itu. Banyak lelaki yang juga bersikap demikian padaku. Walaupun usiaku sudah menjelang 38 tahun tetapi penampilanku masih sering menggoda perhatian para lelaki. Dengan kulitku yang putih bersih dan tinggi badanku yang 172 cm dan berat 55 kg, banyak teman-teman di arisan kompleks rumahku mengatakan aku awet muda. Mereka juga bilang aku manis, cantik, sensual, ah, pokoknya macam-macam pujianlah. Dan kalau lagi kelakar di rumah, suamiku juga sering mengatakan bahwa kecantikanku tidak surut oleh usiaku. Mas Rudy selalu bilang bahwa kecantikkanku tidak berubah sejak ketemu 20 tahun yang lalu. Tentu saja aku mensyukuri semua itu. Dan secara fisik memang dengan sadar aku menjaga kesehatan, makanan dan olah raga secara ter-atur. Setidaknya sebulan 4 kali aku perlukan waktu untuk berenang, di mana saja. Aku juga selalu bangun pagi menyertai Mas Rudy untuk lari jogging setiap pagi.
 Dalam soal busana aku senang dengan cara berpakaian yang santun. Aku tidak pernah memakai blus yang memperlihatkan belahan dada, atau celah ketiak atau punggung terbuka. Semua busana pilihanku relatip serba tertutup. Dan aku bahkan sangat menyenangi pakaian Jawa yang kain dengan kebayanya, atau baju muslim saat aku menghadiri undangan atau pesta-pesta hajatan keluarga maupun teman. Aku juga menyenangi tampilan alami, hanya sedikit kosmetik. Aku termasuk orang yang mencintai dan yakin dengan 'inner beauty'.

- Gerbong eksekutip Argo Lawu ini dingin AC-nya terasa sangat menggigit. Selimut tebal Argo Lawu yang dibagikan bersama bantal tidak banyak menolong aku. Aku sangat sensitip terhadap dingin macam begini. Kalau aku jalan sama suamiku dia sudah merangkulku memberikan kehangatan. Kini aku menggigil hingga kedengaran gigiku yang menggelutuk beradu. Rupanya Rendy langsung tahu apa yang terjadi pada diriku, dengan penuh spontan dia lepaskan jaketnya dan diserahkannya padaku. Semula aku menolaknya, tetapi dia sudah langsung menutupkan pada tubuhku sambil bilang bahwa dia tidak begitu memerlukannya, dia bilang dingin macam ini nyaman untuk tubuhnya.
 Begitu jaket itu menutupi tubuhku yang pertama aku rasakan adalah sedikit kehangatan dan aroma wewangian pria. Seperti wewangian yang terbuat dari rempah-rempah. Tentu saja ada semburat aroma ke-lelaki-an Rendy yang berebut menembus hidungku. Aku merasakan keadaan yang aneh, sepertinya ada lelaki lain yang bukan suamiku sedang memeluk aku. Sekali lagi aku mengkhawatirkan pikiranku yang nggak lempang ini. Rasanya ada yang salah dengan keadaan diriku. Sepertinya sebuah kesetiaan sedang mendapat cobaan. Dan celakanya aku nggak bisa memastikan, aku ini senang atau prihatin dengan apa yang sedang berlangsung ini.

- Aku sangat kaget ketika tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku, hampir kutarik kalau dia tidak bilang,

" Tangan Mbak dingin banget, nih. Mau nggak kalau aku pijat refleksi tangannya, nanti hangat, deh?", ah, dia punya seribu satu alasan yang selalu tepat untuk banyak berbuat padaku.

- Aku juga nggak tahu, kenapa aku pasrah saja saat tangannya meraih tanganku membawa ke pangkuannya untuk dia pijit-pijit. Dia bilang pijat refleksi.  Aduh, aku berteriak tertahan karena kesakitan, tetapi dengan cepat dia bilang dalam bisikkan, bahwa kalau aku merasakan sakit artinya bahwa memang aku sedang sakit. Dia terangkan bahwa yang dia pijat itu adalah tombol-tombol saraf yang berhubungan dengan bagian di tubuhku yang sedang kena sakit. Dia bilang paru-paru dan punggungku sedang tidak normal karena dingin atau mungkin karena lelahnya perjalanan. Dan yang membuatku langsung merinding dan bergetar adalah suara bisikkannya itu. Dalam khayalku se-akan seorang lelaki bukan suamiku sedang membisikkan birahinya ke padaku. Aku menggelinjang kecil, perasaan serupa pernah aku rasakan sudah begitu lama, saat pertama kalinya pacar pertamaku barhasil membawaku ke ranjangnya. Tapi aku masih sepenuhnya sadar untuk jangan sampai segalanya berkembang terlalu jauh,

" Sudah, dik, sudah, terima kasih, aku nggak tahan sakitnya, nih". Kutarik tanganku dan dia lepaskan. Untuk beberapa saat kami saling berdiam diri, walaupun sebentar-sebentar dia menengok ke arahku menunjukkan rasa khawatirnya.

- Ternyata yang namanya godaan selalu ada saja. Alergi dinginku membuat aku terbatuk-batuk hingga tubuhku terbungkuk-bungkuk menahan gatalnya tenggorokkanku. Dan dia yang penuh perhatian padaku terasa begitu saja spontan saat memegang kudukku untuk meijat-mijatnya sambil,

" Mbak masuk angin, nih". Aku memang nampak seperti nenek-nenek kronis.

- Batukku ini benar-benar membuat aku tidak berkutik saat tangannya juga merangkul pundakku sambil terus memijat tengkukku. Ah, kenapa harus begini, sih. Apa yang akan terjadi selanjutnya ..? Kemudian dia lepaskan rangkulannya padaku dan berdiri,

" Sebentar, mbak, ya", dia beranjak jalan, mungkin ingin ke toilet. Tetapi setelah beberapa saat dia muncul lagi dengan segelas teh hangat di tangannya. Ah, orang ini selalu mengambil tindakan yang tepat pada waktu yang tepat. Teh hangat ini memang yang sangat aku butuhkan pada saat-saat seperti ini,
" Wah, dik, anda kok begitu repot, sih, terima kasih banget, ya. Maafkan, aku ini memang nggak tahan dingin. Ya, begini jadinya, mudah-mudahan teh panas Dik Rendy akan mengurangi kedinginanku", begitu jawabku saat dia menyodorkan teh panas itu padaku sambil aku memberikan jalan untuk dia duduk kembali ke kursinya. Dan begitu aku me'nyeruput'-nya memang aku langsung merasakan hangatnya teh panas itu mengalir di tenggorokanku dan batuk-batukku seketika jauh berkurang. Ah, nikmatnya. Untung ada Rendy yang penuh perhatian padaku. Ya, begitulah, aku jadi merasa berhutang budi pada dia karena teh panas ini.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

:: Dan ketika sama-sama berada di bawah selimut Argo Lawu tangan Rendi kembali meraih tanganku seakan hendak memeriksa suhu tubuhku aku tidak lagi merasa perlu menghindar. Tangan itu meremasi tanganku dan diluar kesadaranku, refleks tanganku membalas remasannya. Aku sendiri kaget dengan reaksi refleks tanganku itu, tetapi sudah terlambat untuk begitu saja menghentikannya. Apalagi nampaknya Rendy jadi demikian antusias dengan balasan remasan tanganku. Akhirnya aku, mau tidak mau dan tidak ada pilihan lain lagi, mencoba menikmati apa yang sedang berlangsung ini. Juga saat tangan lainnya kembali meraih pundakku dan menariknya agar bersandar ke pundaknya untuk mendapatkan kehangatan yang lebih aku benar-benar tak mampu menghindar lagi. Dan remasan Rendy aku rasakan semakin “intens” saat dia juga mengeluarkan bisikannya,

" Mbak, tangan Mbak lembut banget, ya. Halus sekali. Dan Mbak juga halus sekali. Mbak cantik sekali". Rupanya dia sudah tak bisa kuhentikan lagi. Rendy sudah memasuki tahap
" batas tidak wajar" yang serius, sementara aku merasa mulai memasuki tahap terjebak,
" batas tidak wajar" yang sulit aku hindari. Toh, aku masih mencoba bertahan,
" Ingat Dik Rendy, aku sudah bersuami. Dan aku sangat mencintai suami dan anak-anakku tak kurang suatu apapun",
" Saya tak akan mengganggu kebahagiaan mbak, kok. Saya hanya mengucapkan apa yang secara nyata aku hadapi terhadap mbak. Mbak sungguh cantik sekali", dia mencoba bertahan dengan diplomasi cinta gombalnya, sementara remasan tangannya terkadang berubah menjadi elusan di punggung dan telapak tanganku dan walaupun aku tidak begitu menunjukkan semangat membalasnya aku tak pernah lagi berusaha menghindarinya, kecuali jantungku yang deg-deg-an semakin menahan gejolak 'batas tidak wajar' lembutku.

- Jam menunjukkan pukul 3 dini hari, aku lihat sepintas tadi kereta malamku telah melintasi stasiun Kroya. Apabila tidak ada hambatan kereta ini akan memasuki stasiun Balapan Solo pada jam 5.30 pagi. Rendy tertidur, tetapi aku nggak yakin kalau bisa tidur beneran. Dia bergerak terus, nampaknya ada kegelisahan. Aku pastikan dia sedang memikirkan bagaimana bisa membuka kembali omongan denganku.
 Aku akui, sesungguhnya aku menikmati remasan-remasan tangannya tadi. Dan aku akui juga sesungguhnya aku hampir bobol pertahanan “batas wajar”-ku tadi. Tetapi kini aku merasa lebih tegar untuk tidak begitu saja merontokkan harga diriku padanya. Tiba-tiba dia melek, menatap aku dan kembali meraih tanganku yang sama-sama di bawah selimut Argo Lawu itu,

" Ah, tangan Mbak sudah normal, nih, nggak kedinginan lagi, ya", dia membuka omongan dan aku menarik ingin tanganku saat dia menyambung bicaranya,
" Mbak kalau.. Eehh.. kalau saya minta tolong, Mbak mau menolong saya?", aku dengar suaranya sedikit berubah tekanannya dan terbata, sepertinya suara seorang kompromis. Aku merasa memegang kartu tawarku, rasanya 'bargenning position' ada padaku,
" Apa, dik. Kalau aku bisa menolong..?", kata-kataku tidak selesai ketika tiba-tiba dia merenggut tanganku dan dipaksanya menggenggam .. ah, sangat aku tidak duga kalau hal seperti ini akan dia lakukan padaku.., dia paksa agar aku menggenggam kontolnya yang nggak tahu sejak kapan dia keluarkan dari celananya, telah berdiri ngaceng tegang di bawah selimut Argo Lawunya.

- Sebetulnya aku amat tersinggung dan terhina pada ulah Rendy ini, tetapi nggak tahu kenapa aku tiba-tiba serasa ditimpa dan ditampar sebuah sensasi yang hebat saat tanganku dia paksakan menggenggam sesuatu yang sangat luar biasa bagiku. Tanganku merasakan kontol Rendy itu sangat hangat, gede dan panjang. Sepertinya aku terpukau oleh sihir gedenya kontol Rendy ini. Untung reflek bertahanku masih menampakkan penolakkan dengan berusaha menarik dari cengkeraman tangannya. Hanya akhirnya karena kekuatan yang tidak seimbang, dia membuat aku tidak berkutik,

" Tolong, mbak, sebentar saja, saya bener-bener tidak bisa menahan nafsu birahiku, tolong mbak, biar aku terlepas dari siksaanku ini, tolon..ng..", dia menghiba dalam berbisik dan aku semakin tertelikung oleh kekuatan tangannya dan sekaligus sihir nafsu birahiku yang tak mampu menghadapi sensasi penuh pesona kontol gede dari lelaki yang sangat ngganteng mirip Onky Alexander ini.

- Dia kembali bisikkan ke telingaku,

" Kocok, mbak, aku pengin keluar cepet, nih", sambil dia pegang tanganku untuk menuntun kocokkannya. Dan aku sudah mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan ketegaran awalku tadi.

- Aku merasa telah dikalahkan oleh suatu kondisi. Aku merasa dia telah memperkosa aku. Memaksa sesuatu demi mengejar kepuasan seksual apapun bentuknya adalah sebuah pemerkosaan. Dia telah memperkosa tanganku. Dan sebagaimana pemerkosaan di manapun juga, para korbannya malu untuk berteriak karena malu ketahuan kalau dirinya diperkosa orang. Bukan sekedar malu tetapi juga takut, bayangkan kalau di antara para penumpang ada yang wartawan koran 'kuning' ibu kota, terus besoknya keluar head line

" Seorang Ibu Diperkosa dalam Kereta Malam Argo Lawu", dan suamiku serta anak-anakku membacanya, dengan kemungkinan fotoku sebagai korban pemerkosaan ikut terpampang di head line tadi. Uh, mau disembunyikan kemana mukaku. Jadi keputusanku yaa.., aku layani sajalah apa maunya..

- Telah beberapa saat dia mendesah dan merintih lirih, tetapi belum juga ejakulasinya datang. Bahkan kini aku sendiri mulai terjebak dalam kisaran arus birahi sejak tangannya juga merabai payudaraku dan memainkan puting susuku. Aku terbawa mendesah dan merintih pelan dan tertahan. Aku mengalami keadaan ekstase birahi. Mataku tertutup, khayalanku mengembara, aku bayangkan alangkah nikmatnya apabila kontol segede ini meruyak ke kemaluanku. Ah, alangkah nikmatnya.., nikmat sekali .., nikmat sekali..,

" Ayoo, dik, aku sudah cape, nih, keluarin cepeett..",
Dia tersenyum,
" Susah, mbak, kecualii..",
" Apaan lagi?",
" Kalau Mbak mau menciumi dan mengisepnya", gila. Dia sudah gila. Beraninya dia bilang begitu padaku. Tt.. tet.. ttapi .. mungkin aku kini yang lebih gila lagi. Aa.. aak.. ku mengangguk saat matanya melihat mataku.

- Sesungguhnya sejak tadi saat tanganku menggapai kontolnya kemudian merasakan betapa keras, panjang dan besarnya aku sudah demikian terhanyut untuk selekasnya bisa menyaksikan betapa mentakjubkan kontol segede itu. Aku sudah demikian tergiring untuk selekasnya mencium betapa harumnya aroma kontol segede itu, betapa lidahkupun ingin merasakan bagaimana seandainya aku berkesempatan melumat-lumat kontol si ganteng Onky ini. Dan kini rasanya yang sangat berharap untuk mengisep-isep itu bukan dia tetapi aku kini yang kehausan dan ingin sekali menciumi dan mengisep kontol Onky Alexander-ku ini.
 Cahaya lampu Argo Lawu yang memang diredupkan untuk memberi kesempatan para penumpang bisa tidur nyenyak sangat membantu apa yang sedang berlangsung di kursi 14 C dan D ini. Seakan-akan aku tidur di pangkuan suamiku, aku bergerak telungkup menyusup ke dalam selimutnya. Gelap, tetapi bibirku langsung menyentuh kemudian mencaplok kontol gede idamanku itu. Aku sudah menjadi hewan. Nafsuku nafsu hewaniah. Aku tidak lagi memikirkain nilai-nilai kesetiaan dan sembarang nilai lainnya. Aku sudah masa bodo. Nafsuku sudah menjerat aku. Aku mulai mengkulum kontol gede itu, lidahku bermain dan aku mulai memompakan mulutku ke kontol Rendy. Huuhh, aroma kontolnyaa.., sungguh aku langsung terhanyut dan bergelegak. Aku mengharapkan sperma dan air mani Rendy cepat muncrat ke mulutku. Aku biasa menelan sperma suamiku, sehingga kini aku juga merasa biasa saja kalau kontol ini akhirnya akan memuncratkan spermanya dan aku pasti menelannya.

- Entah bagaimana tampaknya dari luar, selimut Argo Lawu punya di arah selangkangan Rendy pasti akan naik turun bak gelombang laut selatan yang ganas itu. Aku yakin Rendy sudah memikirkan kemungkinan untuk tidak sampai menjadi perhatian penumpang lainnya. Aku sendiri akhirnya demikian masa bodoh. Aku yang sudah demikian larut dalam kenikmatan yang tak mudah kutemui di tempat lain ini terus hanyut dalam keasyikan birahi dengan kontol dalam jilatan dan kulumanku. Aku merem melek setiap lidahku menjulur dan menariknya kembali. Rasa asin precum Rendy demikian aku rindukan dan nikmati sepenuh perasaan dan gelinjang nafsuku.
 Aroma jembut tebal Rendy sangat memabukkanku. Dalam ruangan selimut yang demikian sempit itu aroma kelelakian Rendy demikian menggumpal merasuki hidungku. Sementara tangan Rendy sendiri kurasakan aktif mengelusi di arah rambutku, terkadang juga turun hingga ke pantatku. Aku menggelinjang tertahan dalam tempat yang serba terbatas ini.
 Kini yang kurasakan adalah kehausan yang amat sangat. Aku ingin minum. Aku ingin secepatnya air mani Rendy muncrat dari kontolnya ini. Aku sangat haus untuk segera meminum sperma panasnya. Aku lumat-lumat sepenuh perasaanku dengan harapan bisa secepatnya merangsang Rendy untuk melepaskan spermanya. Kontol itu kuperosokkan dalam-dalam kemulutku hingga menyentuh tenggorokkanku. Aku mengerang, mendesah sambil bergumam meracau. Tanganku juga ikut mengelusi batangnya kekar dan keras itu. Sesekali lidah dan bibirku menjilati batangnya hingga ke pangkal dan bijih pelernya.

- Benar, tidak sampai 5 menit sebuah kedutan yang sangat keras mengejut dalam mulutku diikuti pancaran panas air mani Rendy. Kedutan-kedutan selanjutnya membuat mulutku penuh oleh cairan lendir panas itu. Aku buru-buru menelannya agar tidak tercecer. Sayang, khan.

" Terima kasih, ya mbak", katanya sambil membetulkan celananya dan menarik tutup resluitingnya. Dia sama sekali nggak memperhitungkan factor aku.

- Mestinya dia memikirkan bahwa akupun butuh penyaluran sesudah dia giring aku ke lembah birahi tak terkendali hinga aku kini merasakan harus tuntas melalui orgasmeku. Dilain pihak, waktu juga sudah mengejar, mungkin sekita 20 menit lagi kereta akan sampai ke tujuan. Dengan perasaan yang sangat menggantung aku kembali duduk manis, seakan tidak ada sesuatu yang pernah terjadi. Aku lihat para penumpang lain masih nyenyak dalam mimpi mereka.
Anehnya, sesudah itu Rendy nampak tak acuh padaku. Jangan-jangan karena maksudnya sudah kesampaian. Artinya sejak awal tadi dia banyak memperhatikan aku semata kerena didorong oleh kehendak bvirahinya. Kurang ajar kamu, Rendi. Aku juga menjadi dongkol, marah dan masa bodo padanya. Aku merasa dihinakan dan direndahkan. Aku berfikir mungkin karena aku sudah tua. Ah, memang aku sudah tua. Aku yang sudah tua dan tidak tahu diri.
 Saat kereta nyampai dia menyambar tas ranselnya dan mendahului aku turun. Mbak, saya duluan ya, katanya kering tanpa sedikitpun keinginan untuk membantu aku bawa tas, kek, koper, kek, tahu bahwa bawaanku cukup ribet begini. Dasar sudah tua ngak tahu diri, begitu pikirku pada diriku sendiri.
Untung Suryo cepat muncul, dia mencium tanganku dengan penuh hormat dan takzim. Aku yang menerima ciuman hormat dan takzim anakku kembali merasa malu, aku adalah orang tua yang nggak tahu diri, hina, memalukan ah.. macam-macam yang serba jeleklah. Nilaiku kini tidak setinggi nilai saat aku berangkat diantar suamiku kemarin sore. Yang harus aku usahakan kini adalah mengembalikan rasa percaya diriku.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

:: Peristiwa Kelima,
TETANGGA

- Sehabis menikah aku langsung mengikuti suami tinggal di Ibu Kota, Jakarta. Sebagai pegawai negeri suamiku hanya bisa kontrak rumah petak untuk tempat kami berteduh dan seseorang memiliki alamat untuk pulang. Sangat beda rasanya rumah di kota asalku Salatiga dimana hubungan antar manusia masih demikian kental dan saling manusia memanusiakan antara satu terhadap yang lain. Sementara di Jakarta yang aku rasakan pertemuan antar manusia semata-mata lebih didorong oleh adanya kebutuhan duniawi. Hubungan akan berarti baik apabila seseorang bisa memberikan manfaat dunia lebih besar dari yang lain. Di Jakarta orang lebih berhitung pada masalah jumlah dengan mengorbankan mutu. Kalau aku bisa memberi lebih banyak dari yang lain berarti aku lebih baik dari yang lain, dan pantas menerima sikap hormat yang lebih tinggi dari yang lain.
 Demikianlah suamiku yang dosen Universitas Negeri yang notabene pegawai negeri dengan embel-embel Ir. di depan namanya plus MM di belakangnya tidak mampu meraih penampilan dan nilai yang layak di tengah masyarakat di sekitarku. Keluarga Mas Tondy yang penjaga gudang di daerah Cakung yang mengkontrak petak di sebelah kananku rumahku lebih memiliki nilai karena tampilan dunianya jauh lebih dari tampilan kami. Itulah kenyataan metropolitan yang hingar bingar dan gegap gempita ini.

- Kebutuhan MCK (mandi, cuci dan kakus) kami berhimpitan hanya dibatasi oleh selembar gedek yang rawan bolong-bolong. Hanya sikap morallah yang membatasi kami dalam arti yang lebih jauh. Bagi kami, khususnya bagi aku dan Dik Narti istri Mas Tondy tetangga sebelah, sumur adalah segala-galanya. Hampir 90% waktu kami habiskan di seputar sumur dan MCK-nya itu. Suami kami masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Bedanya kalau suamiku, Mas Naryo, seharian siang dia nggak ada di rumah, sementara kalau Dik Narti seharian malamnya suaminya jaga gudang di Cakung.
 Antara para suami kami praktis jarang jumpa berpapasan karena waktu kesibukkannya yang saling terbalik. Sementara kami para istri juga kesibukan melayani suaminya jatuh pada waktu yang berbeda pula. Sebagai suami istri muda, Dik Narti baru keluar dari kamarnya menuju ke sumur baru sekitar jam 11 siang. Tentu dia harus siap melayani berbagai kebutuhan suaminya yang baru pulang setiap jam 6 pagi itu. Dan aku sendiri sebagaimana yang lain bercengkerama dengan suamiku pada malam harinya sepulang dari pekerjaannya. Kemungkinan penyimpangan hanya terjadi pada saat-saat tertentu, misalnya salah satu dari pasangan di antara kami ada yang sakit atau bepergian atau karena sebab yang lain. Suasana seperti itu juga terjadi di keluarga tetangga sekitar kami. Pada pagi hari rata-rata sepi. Anak-anak mereka pergi kesekolah dan para suami hampir seharian penuh mencari sandang pangan.
Telah 5 hari Dik Narti pulang ke desanya dengan maksud menjemput adiknya untuk diajak membantu di Jakarta. Ku lihat Mas Tondy menyiapkan sendiri segala kebutuhan sehari-harinya yang mulai dia lakukan sekitar jam 10 atau 11 pagi, seusai tidur sepulang jaga malam. Dia mencuci pakaiannya, membersihkan rumah, mencuci perabot dapur dan sebagainya. Mau tidak mau aku sering berpapasan di seputar sumur yang memang kami pakai berdua keluarga. Walaupun begitu kami jarang saling bicara. Aku lebih senang begitu. Aku takut omongan tetangga yang gampang usil. Mas Tondy hampir seharian selalu berpakaian minimum dengan alasan udara Jakarta yang panas. Tanpa 'ewuh pekewuh' dia selalu hanya bercelana pendek dan melepas bajunya. Aku suka mencuri pandang. Postur tubuhnya yang cukup tinggi nampak kekar berotot, sesuatu hal yang memang diperlukan untuk tugas semacam penjaga gudang dan semacamnya.

- Pagi itu aku sedang masak di dapurku yang sempit. Panasnya udara Jakarta memaksa aku sendiri mondar-mandir di dapur dan sumur hanya menggunakan kutang dan kain yang kuikatkan se-enaknya ketika tiba-tiba Mas Tondy muncul di pintu.

" Mbakyu Larsih, aku mau minta tolong sedikit, nih", sambil terus nyelonong memasuki rumahku. Aku kaget, mau apa dia. Kulihat wajahnya kemerahan dengan matanya yang seperti kucing lapar melihat ikan asin menatap mataku.

- Aku merasakan sesuatu yang nggak begitu enak. Adakah yang sangat penting sehingga dia harus masuk ke rumahku tanpa permisi lebih dahulu? Antara khawatir dan ingin menolong tetanga aku bangun berdiri mengikuti langkahnya,

" Ada apa, Mas Tondy?", aku melihat matanya yang semakin menakutkanku,
" Jangan marah, ya Mbak. Masalahnya aku bener-bener nggak tahan, nih. Dik Narti khan sudah 5 hari pulang kampung. Aa.. kkuu.., mm.. maaf.., ya, mBak, tadi pagi saat pulang jaga malam aku mendengar mBak dan Mas Naryo masih ada di kamar sedang asyik masyuk".

- Deg, hatiku. Kenapa Mas Tondy teganya ngomong begitu padaku. Aku nggak sempat berpikir lebih jauh saat dengan serta merta dia meraih tubuhku dengan tangannya yang kuat membungkam mulutku kemudian beringsut merebahkan aku ke kasur kamarku yang memang hanya terpisah oleh dinding gedek dapurku. Dengan sigapnya dia jejalkan gombal dari kantongnya ke mulutku yang aku rasa telah dia siapkan sebelumnya. Kemudian dengan kekuatan ototnya ditelikungnya tanganku untuk dia ikatkan ke ranjangku. Aku langsung dilanda ketakutan yang amat sangat. Aku ingat suamiku, ingat sanak keluargaku. Mungkinkan Mas Tondy mau membunuhku? Tetapi justru ketakutanku itulah yang membuat aku lemas dan langsung menyerah.

" mBak Larsih nggak usah takut, aku nggak akan nyakitin mBak, kok. Aku hanya perlu sebentar saja. Aku sudah pengin banget, nih. Tadi pagi saat Mas Naryo menyetubuhi mBak Larsih aku ngintip dari balik dinding", dia berbisik dengan tajam ke telingaku untuk meyakinkan bahwa aku nggak akan disakitinya,
" Aku nggak tahan, mBak, tolongin aku, Mbak..", dia langsung merangsek buah dadaku dengan buasnya. Aku melawan karena hal semacam ini tak pernah sama sekali terbit dalam pikiranku dan bayanganku.
" Aku nggak tahan bener, mBak.. Tolongin aku, mBak..", kini ketiakku dia ruyaki sambil menyedoti dan menciumi habis-habisan. Dengan tanganku yang terikat sisa tenagaku sama sekali nggak sebanding dengan penjaga gudang berotot ini.

- Dengan kasar penuh nafsu kain penutup tubuhku dia tarik dan lepasi dengan mudahnya. Tangannya yang kasar dan kokoh itu langsung mengelus-elusi pahaku. Kemudian dengan cepat juga jari-jarinya menyeruak kekemaluanku. Aduh, nggak pernah terpikir olehku akan ada lelaki selain suamiku yang menyentuh barang kehormatanku ini. Aku tidak begitu saja bisa menerima kenyatan ini. Aku menangis pilu walaupun hanya air mataku saja yang menampakkan tangisku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sebagai tanda penolakanku akan perbuatan Mas Tondy ini. Aku anggap dia sudah berlaku sangat tidak menghormati aku, suamiku, keluargaku. Aku sangat takut akan aib yang akn menimpa kami.
Tetapi Mas Tondy terus membisiki aku,

" Tenang mBak Larsih, nggak apa-apa. Jangan takut, nggak ada yang bakalan tahu. Hanya kita berdua saja yang tahu. Aku berjanji untuk seumur hidupku hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja".

- Benarkah? Penjaga gudang ini ternyata memang lihay. newiklanpoker.blogspot.com Benar atau tidak kata-katanya itu ternyata mampu memberikan aku kesejukkan, setidak-tidaknya melerai rasa takutku akan kemungkinan dia melukai atau menyakiti tubuhmu. Seakan aku memiliki pilihan, melawan dengan risiko dia akan bertindak brutal dengan menyakiti aku atau menyerah pasrah dengan risiko aku harus mengikuti dan memenuhi permintaannya. Dan menyadari akan keterbatasanku saat ini pilihan kedua akan memberikan padaku keselamatan fisikku. Hal-hal lain soal nantilah, yang penting aku selamat lebih dahulu.
 Kini aku mulai merasakan secara rinci apa yang sedang dan kemungkinan akan dia lakukan padaku. Jari-jarinya yang terus menari-nari di kemaluanku terasa sangat menggelikan saraf-saraf peka birahimu. Aku mulai merasakan kenikmatan. Aku merasakan jari-jari Mas Tondy sangat pintar membangkitkan kehausan birahiku.
 Melihat aku bersikap menyerah dan pasrah dia semakin ganas melumati ketiak yang kemudian melata bergeser ke leherku kemudian juga ke tepian kupingku.

" mBak Larsih, mBak sangat cantik sekali. Aku tadi pagi mengintip mBak yang sedang digauli Mas Naryo, oh, mBak.., aku nggak tahan melihat wajah mBak yang menggelinjang menerima kenikmatan dari Mas Naryo. Sekarang mBak mesti nyobain kenikmatan dari aku, ya, mBak?".

- Kemudian dengan pelan tetapi pasti Mas Tondy membelah selangkanganku. Dia menempatkan tubuhnya tepat di antara selangkanganku. Dan dengan sekejab aku merasakan sesuatu yang hangat panas mendesak-desaki kemaluanku. Aku sudah tahu, itu kontolnya.
 Rasa pasrah dan menyerahku hanya memberikan aku satu pilihan, nikmatilah. Dan aku mencoba mencari kenikmatannya. Saat Mas Tondy terus mendesakkan kontolnya dengan cara mendorong menaik-turunkan tubuhnya memompakan kontolnya ke kemaluanku dengan refleks yang aku miliki aku menjemputinya.
 Aku memutar-mutar bokongku kemudian menaik turunkannya untuk menjemput kontolnya. Aku merasa mulai gatal di lubang vaginaku. Aku merasakan mulai mengalirnya cairan birahiku. Dan itu juga langsung diketahui oleh Mas Tondy yang semakin cepat dan keras mendesakkan kontolnya ke kemaluanku.
 Dan tanpa ayal lagi, akhirnya seluruh batangan kontol Mas Tondy tenggelam dilahap kemaluanku. Hoohh.., aku tidak menduga bahwa aku akan mendapatkan kenikmatan yang sangat luar biasa di pagi hari ini. Kontol Mas Tondi yang berada dalam terkaman nonokku keluar masuk menggelitiki dinding-dinding peka vaginaku. Aku menggelinjang, mendesah dan merintih lirih. Aku ikut memompa mengimbamgi pompaan Mas Tondy.

- Mas Tondy menatapku sesaat sementara kontolnya terus memompa memekku. Kemudian dia lepaskan sumpal mulutku untuk selanjutnya dia daratkan bibirnya ke bibirku. Kami saling melumat. Aku merasa sangat kehausan. Lepas dari sumpal itu sungguh melegakan. Dan kini sikapku adalah ingin memberikan sepenuhnya kepuasan kepada Mas Tondy. Aku sudah memasuki gerbang nafsuku sendiri. Aku juga ingin meraih madunya paksaan dan pemerkosaan dia atasku. Aku melumat habis-habisan mulutnya. Aku hisap-hisap lidahnya, aku sedoti ludahnya. Aku mengerang dan meracau,

" Mas Tondy, maafin aku, ya.., aku tadi takut banget.., Mas Tondy, uuhh.. Kontolmu ennaakk banget.. Mas Tondy, maafin mBak Larsih, ya.. Mas Tondii.. teruszzhh.. ennhhaakk bangett..", dan Tondy terus memompakan kontolnya ke memekku dengan mantab sekali. Kami telah meraih irama persanggamaan bersama.

- Kami sedang mengejar kepuasan puncak dari persanggamaan ini.
 Akhirnya tali yang mengikat tangankupun dilepaskannya. Kini tak ada lagi pemerkosaan. Yang ada adalah kesepakatan bersama untuk meraih puncak nikmat birahi. Keringat mulai membanjir dari tubuh-tubuh kami. Mas Tondy menggenjot dan aku menjemput. Kakiku kunaikkan ke pundaknya hingga kontol Mas Tondy terasa mentok menyentuh rahimku. Nikmat yang kurasakan sungguh luar biasa. Dari penyebab awalnya dimana norma sopan dan adab tak lagi dijadikan batasan membuat aku juga bisa berlaku saenakku, kini kurenggut kepala Mas Tondy.  Kudekatkan ke wajahku dan kuenyoti bibirnya sambil kujambaki rambutnya. Nonokku yang gatalnya semakin nggak ketulungan membuat aku jadi buas, binal dan liar tidak sebagaimana saat aku bersanggama dengan suamiku selama ini.
 Aku menggelinjang-gelinjang dengan sangat hebatnya. Aku berteriak histeris tertahan sebagai wujud pelampiasan nafsu birahiku yang tak terkendali ini. Aku ingin dipuaskan sejadi-jadinya. Aku berguling. Dengan rambutku yang telah lepas terurai dari ikatannya dan dengan keringat yang semakin membasah mengucur dari tubuhku aku tumpakin tubuh Mas Tondy. Aku desakkan habis-habisan nonokku ke kontolnya untuk menggaruk lebih keras kegatalan di dalamnya. Aku sangat gelisah dan resah menunggu hadirnya orgasmeku. Setiap kali aku mendongak dan menyibakkan rambutku kemudian kembali menunduk histeris. Tangan-tanganku mencekal gumpalan dada Mas Tondy hingga kuku-kukuku menancap dalam ke dagingnya. Rasa gatal yang sangat mendesaki nonokku, aku tahu bahwa tak akan lama cairan birahiku akan tumpah ruah. Aku sudah demikian lupa diriku.

- Akhirnya kami sama-sama mencapai kepuasan puncak kami. Cairan hangat yang menyemprot dari kontol Mas Tondy ke dalam nonokku langsung disambut dengan muntahan berlimpah cairan birahi nonokku. Aku langsung tersungkur sementara kedutan-kedutan kontol Mas Tondy belum sepenuhnya usai.
Aku masih melamun dalam penyesalan saat Mas Tondy bangkit dari ranjangku. Dia mencium keningku dan berlalu. Kudengar bisikan terima kasih dari bibirnya. Saat aku ingin sekali lagi menangkap untuk mengecupnya dia telah hilang di balik pintu.
 Siang itu aku tidak masak. Rasa penat disekujur tubuhku membuat aku bermalasan sepanjang hari itu. Saat Mas Naryo pulang kulihat dia membawa bungkusan plastik di tangannya. Dia membawa mie goreng dan puyunghai kesukaanku. Seakan aku melupakan apa yang telah terjadi siang tadi kini aku duduk makan bersama suamiku dengan perasaan penuh galau. Pada Mas Naryo aku sampaikan keinginanku untuk beberapa waktu aku pulang mudik. Aku bilang sudah kangen sama sanak famili di Salatiga. Mas Naryo menatap aku, menatap mataku. Dia berusaha membaca relung hatiku. Dia setuju aku pulang. Dia menyadari bahwa aku masih dalam proses adaptasi dalam menyelami kehidupan Jakarta. Dia akan menjemputku saat kembali ke Jakarta nanti.
 Rupanya permintaanku pulang dia sambut dengan sebuah rencana yang memberikan kejutan bagiku. Sesudah barang tiga minggu dengan penuh rindu aku menunggu jemputan Mas Naryo, dia menelponku. Dia bilang bahwa tidak bisa datang menjemputku karena kesibukkan di kampusnya. Tetapi dia telah mengirimkan 5 lembar tiket Garuda yang bisa aku ambil di kantor Garuda Semarang. majalahsex.com Dia minta supaya aku mengajak serta kedua orang tuaku dan 2 orang adikku yang sedang liburan sekolah. Sesuai dengan hari yang ditetapkan Mas Naryo menjemputku di bandara Sukarno Hatta dengan sebuah Kijang baru. Aku heran ternyata Mas Naryo bisa menyopir mobil sendiri.

- Dan kejutan yang paling hebat dari Mas Naryo adalah saat mobil Kijang ini tidak meluncur ke rumah yang kukenal sebagai rumah kami selama ini. Melalui jalan tol Jagorawi Mas Naryo membawa mobilnya ke kompleks perumahan dosen di Cibubur. Kami memasuki rumah baru kami yang besar dan luas. Segala barang-barang dari rumah lama telah dipindahkan seluruhnya ke rumah baru ini. Aku melihat bagaimana orang tuaku dan adik-adikku menyambut gembira atas limpahan rejeki dan rahmat kepada kami. Di depan mereka Mas Naryo merangkul aku dan mencium pipiku yang kusambut dengan sepenuh hangat hatiku. Aku membulatkan tekadku untuk sepenuhnya mengabdi dan mendukung segala usaha dan karier Mas Naryo suamiku!!!*****TAMAT.


Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Membaca Cerita Dewasa Yang Sebelumnya Klik Di Sini ya Para Pembaca Cerita Dewasa...

Para Pembaca Cerita Dewasa Ingin Mendaftar Dan Mencoba Keberuntungan Klik Di Sini Ya Para Pembaca Dewasa...